TUGAS KONSERVASI ARSITEKTUR

Konservasi Arsitektur Museum Bahari

http://rizkianstory.blogspot.co.id/2016/06/konservasi-arsitektur-museum-bahari.html

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Museum merupakan tempat wisata yang menyimpan sejarah sebagai nilai daya tarik pengunjung, sebagaimana pernah dikemukakan bahwa negara yang maju merupakan negara yang bisa menghargai sebuah sejarah, seperti negara Indonesia yang memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang, ini terlihat banyaknya museum-museum yang berdiri di kota-kota besar seperti Jakarta. Namun semakin banyaknya pembangunan pusat hiburan seperti mal membuat keberadaan museum semakin jarang di datangi masyarakat. Untuk itu perlu adanya konservasi di sebuah museum agar keberadaannya tidak hanya sebagai pelengkap elemen kota.

Konservasi sendiri merupakan suatu kegiatan pelestarian sebuah bangunan, kegiatan ini dilakukan agar sebuah bangunan dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Dalam kasus ini diambil dari museum Bahari yang dulunya merupakan gudang rempah-rempah yang dibangun pada tahun 1652 dimana pada masa itu rempah-rempah yang berasal dari Indonesia dikirim keberbagai kawasan di Eropa.

Museum Bahari terletak di kawasan Sunda Kelapa dimana kawasan tersebut merupakan kawasan perniagaan yang paling sibuk, ramai dan dijaga ketat oleh tentara Belanda. Kapal-kapal besar mengangkut beragam jenis rempah-rempah bersender di galangan kapal VOC di kawasan Sunda Kelapa ini.

Museum Bahari menyimpan 126 koleksi benda-benda sejarah kelautan. Terutama kapal dan perahu-perahu niaga tradisional. Di antara puluhan miniatur yang dipajang terdapat 19 koleksi perahu asli dan 107 buah miniatur, foto-foto dan biota laut lainnya. Namun belakangan ini museum Bahari tampak sepi dan terkesan angker karena kurangnya minat wisatawan lokal untuk datang, oleh karena itu penulisan ini dibuat agar dapat mengenalkan sejarah kelautan maka museum Bahari ini harus di konservasikan.

1.2.Rumusan Masalah

Bagaimanakah penanganan tepat dan langkah yang baik untuk pelestarian museum bersejarah seperti Museum Bahari ?

1.3.Tujuan

Mendapatkan pengetahuan atau tindakan yang tepat agar Museum Bahari dapat dijadikan wisata bersejarah yang tidak lagi terkesan membosankan, atau angker.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Pemeliharaan Bangunan

Maintenance atau pemeliharaan pada bangunan dimaksudkan sebagai gabungan dari tindakan teknis dan administratif yang dimaksudkan untuk mempertahankan, dan memulihkan fungsi bangunan sebagai mana yang telah direncanakan sebelumnya. Keberhasilan suatu bangunan dinilai dari kemampuan bangunan unutk ada pada kondisi yang diharapkan, yang dipengaruhi oleh beberapa persyaratan, antara lain :

a.Persyaratan fungsional adalah persyaratan yang terkait dengan fungsi bangunan. Setiap bangunan memiliki persyaratan fungsional umum dan khusus yang perlu di penehui.

b.Persyaratan performance, masing-masing bangunan memiliki performancebangunan yang sangat spesifik. Performance bangunan mencakup banyak aspek, mulai dari performance fisik luar bangunan, sampai pada elemen-elemen Mechanical & Electrical (ME). Tindakan pemeliharaan bangunan sangat ditentukan oleh tuntutan performance yang terkait dengan fungsi bangunan.

c.Persyaratan menurut undang-undang. Persyaratan menurut undang-undang merupakan persyaratan bangunan yang tidak bisa diabaikan, karena menyangkut regulasi dan legalitas.

d.Persyaratan menurut user. Persyaratan menurut user biasanya berkaitan dengan kenyamanan. Kenyamanan user merupakan ukuran keberhasilan suatu bangunan. Biasanya bangunan yang memiliki persyaratan user adalah bangunan-bangunan sewa dan bangunan-bangunan umum.

Idealnya, pada tahap desain, perencana telah menyusun kriteria-kriteria untuk menghasilkan suatu performansi tertentu sehingga aktifitas pemeliharaan yang dilakukan selama masa operasi gedung akan lebih efektif. Namun seringkali kriteria-kriteria semacam itu tidak dibuat sehingga menimbulkan kesulitan dalam menentukan program pemeliharaan sampai tahap pelaksanaannya. Kegiatan pemeliharaan bangunan meliputi berbagai aspek yang bisa dikategorikan dalam 4 kegiatan, yaitu:

  1. Pemeliharan rutin harian.
  2. Rectification (perbaikan bangunan yang baru saja selesai)
  3. Replacement (penggantian bagian yang berharga dari bangunan)
  4. Retrofitting (melengkapi bangunan sesuai kemajuan teknologi)

Secara sederhana, pemeliharaan bangunan dapat diklasifikasikan menjadi 2 macam yaitu: pemeliharaan rutin dan pemeliharaan remedial/perbaikan.

2.2.Pemeliharaan Rutin

Pemeliharaan rutin adalah pemeliharaan yang dilaksanakan dengan interval waktu tertentu untuk mempertahankan gedung pada kondisi yang diinginkan/sesuai. (Chanter Barrie & Swallow Peter, 1996, h.119 ). Contohnya pengecatan dinding luar 2 tahunan, pengecatan interior 3 tahunan, pembersihan dinding luar dll. Jenis pekerjaan pemeliharaan rutin juga berupa perbaikan atau penggantian komponen yang rusak, baik akibat proses secara alami atau proses pemakaian.

Pada pemeliharaan rutin sangat penting untuk menentukan siklus pemeliharaan. Siklus pemeliharaan ditentukan berdasarkan data fisik gedung dan equipment yang cukup dalam bentuk dokumentasi, manual pemeliharaan maupun catatan pengalaman dalam pekerjaan pemeliharaan sebelumnya. Sehingga rencana program pemeliharaan, jenis pekerjaan dan anggaran dapat segera dibuat.

Kendala-kendala yang terdapat pada pemeliharaan rutin adalah :

  1. Pemilik/owner

Seringkali para pemilik gedung tidak melaksanakan program pemeliharaan yang sudah dibuat, bahkan cenderung memperpanjang interval pemeliharaan dengan tujuan mengurangi beban biaya pemeliharaan agar keuntungan yang didapat lebih besar. Padahal dengan tertundanya jadwal pemeliharaan rutin akan mengakibatkan bertumpuknya kualitas kerusakan (multiplier effect ) yang akhirnya membutuhkan biaya perbaikan yang jauh lebih besar.

  1. Kurangnya data dan pengetahuan

Seringkali pemeliharaan rutin tidak dapat dilakukan akibat kurangnya data baik manual, sejarah pemeliharaan maupun dokumentasi. Disamping itu juga kekurangan pengetahuan dari personil pengelola gedung baik tingkat manajerial maupun pelaksana mengakibatkan program pemeliharaan dan pelaksanaannya kurang optimal.

2.3.Pemeliharaan Remedial

Pemeliharaan remedial adalah pemeliharaan perbaikan yang diakibatkan oleh:

  1. Kegagalan teknis/manajemen bisa terjadi pada tahap konstruksi maupun tahap pengoperasian bangunan.
  2. Kegagalan konstruksi dan desain, dalam hal ini faktor desain dan konstruksi berhubungan erat. Kesalahan dalam pemilihan bahan bangunan dan kesalahan dalam pelaksanaan atau pemasangan.
  3. Kegagalan dalam pemeliharaan yang disebabkan oleh : Program pemeliharaan rutin yang dibuat tidak memadai, Program perbaikan yang tidak efektif, Inspeksi-Inspeksi yang tidak dilaksanakan dengan baik, dan Data-data pendukung pemeliharaan yang tidak mencukupi.

Secara lebih luas, kegiatan pemeliharaan dapat diklasifikasikan menjadi:

  1. Pemeliharaan terencana / planned
  2. Pemeliharaan tidak terencana / unplanned

2.4.Pemeliharaan Bangunan Berlantai Banyak

Pada bangunan berlantai banyak yang disewakan, terdapat 3 pihak yang berke-pentingan dalam menentukan performance bangunan, yaitu :

  • MAINTENANCE
  • UNPLANNED
  • MAINTENANCE
  • PLANNED
  • MAINTENANCE
  • CORRECTIVE MAINTENANCE
  • (incl. emergency maintenance)
  • PREVENTIVE
  • MAINTENANCE
  • CONDITION BASED MAINTENANCE
  • SCHEDULED MAINTENANCE
  • CORRECTIVE MAINTENANCE
  • (incl. emergency maintenance)

Ø  Owner / pemilik gedung

Ø  Tenant / penyewa

Ø  Building Management/penge-lola bangunan.

Masing-masing pihak memiliki tuntutan performance berbeda. Mengingat kompleksitas peker-jaan yang sangat besar, maka manajemen pemeliharaan da-lam gedung bertingkat tinggi biasanya dilakukan oleh se-buah organisasi pemeliharaan yang disebut organisasi pemeliharaan gedung.

Organisasi pemeliharaan pada gedung perkantoran biasanya masuk dalam organisasi pengelola yang lebih besar yang disebut Building Management. Organisasi Building Management pada gedung berlantai banyak bervariasi tergantung pada organisasi induk, fungsi gedung, luas lantai dan jumlah lantai.

Dalam konteks pemeliharaan gedung, Building Management melaksanakan perawatan dan perbaikan gedung, fasilitas dan kelengkapan gedung dengan tujuan tercapainya :

Ø  Reliabilitas ( kehandalan )

Ø  Availabilitas ( ketersediaan )

Ø  Memperpanjang umur teknis

Ø  Memberikan nilai tambah

Untuk mencapai hal diatas maka Building Management harus membuat jadwal pemeliharaan sesuai spesifikasinya baik fisik gedung maupun mekanikal dan elektrikalnya.

Tindakan pemeliharan yang sifatnya mendadak dan tidak direncanakan, biasa dilakukan atas dasar komplain dari pihak penyewa/tenant. Komplain ini akan disampaikan padacustomer service dan kemudian akan disampaikan kepada organisasi pemeliharaan gedung untuk ditindak lanjuti.

2.5.Pemeliharaan bangunan dengan material metal / logam

Kemajuan industri dan teknologi logam (baja) sebagai material bangunan, membuat baja menjadi material yang handal dan banyak dipakai. Material ini banyak dipakai karena sifatnya yang kuat tarik maupun tekan, ringan, presisi dalam ukuran, mudah dalam pengerjaan sehingga menghemat waktu konstruksi. Namun diantara berbagai keunggulannya, material baja memiliki kekurangan yaitu sifatnya yang mudah berkarat/korosif.

Korosi sebenarnya suatu reaksi kimia pada logam dengan unsur lain yang berhubung dengannya, sehingga terjadi erosi pada salah satu permukaaan. Korosi dapat terjadi juga bila dua jenis logam bersentuhan dan terjadi perbedaan potensial listrik. Sementara menurut faktor penyebab, korosi bisa diklasifikasikan menjadi: 1. atmospheric corrosion,2. immersed corrosion, 3. underground corrosion.

Selain baja yang korosif, ada beberapa jenis material logam lainnya yang tidak korosif dan lazim dipakai pada bangunan, antara lain: aluminium, stainless steel, dll. Logam jenis ini banyak dipakai dalam bangunan karena material ini tergolong material yang free maintenance.

2.6.Pemeliharaan bangunan konservasi

Karya seni bangunan dari manapun dan oleh siapapun sebaiknya dilihat sebagai bagian dari keberadaan total yang terbuka untuk dihargai dan memperkaya sumber-sumber pembangunan. Konservasi sebagai suatu proses memelihara ‘place’ untuk mempertahankan nilai-nilai estetik, sejarah, ilmu pengetahuan dan sosial yang berguna bagi generasi lampau, sekarang dan masa yang akan datang, termasuk di dalamnya ‘maintenance’ sangat tergantung kepada keadaan termasuk juga ‘preservation‟, „restoration‟, „reconstruction‟ dan „adaptation‟ dan kombinasinya.

Maintenance’ bertujuan memberi perlindungan dan pemeliharaan yang terus menerus terhadap semua material fisik dari ‘place’, untuk mempertahankan kondisi bangunan yang diinginkan. Jenis pekerjaan pemeliharaan rutin juga bisa berupa perbaikan. Perbaikan mencakup ‘restoration’ dan ‘reconstruction’, dan harus diperlakukan semestinya. Kerusakan-kerusakan yang harus diperbaiki bisa diakibatkan oleh proses alami, seperti kerapuhan, lapuk, kusam atau proses pemakaian, seperti goresan, pecah dsb.

Misalnya tentang talang :

  1. Pemeliharaan, inspeksi dan pembersihan talang secara rutin
  2. Perbaikan, restorasi; mengembalikan talang yang bergeser ketempat semula
  3. Perbaikan, rekonstruksi, yaitu mengganti talang yang lapuk.

Pada pemeliharaan rutin sangat penting untuk menentukan siklus pemeliharaan dan hal ini bisa ditentukan berdasarkan data fisik gedung dan equipment yang cukup dalam bentuk dokumentasi

Pemeliharaan pada bangunan konservasi mempunyai tingkat intervensi menurut skala peningkatan keradikalannya, yaitu :

  1. Preservasi : berkenaan secara tidak langsung terhadap pemeliharaan artifak pada kondisi fisik yang sama seperti ketika diterima olek kurator. Penampilan estetiknya tidak boleh ada yang ditambah atau dikurangi. Intervensi apapun yang perlu untuk mem „preserve‟ integritas fisiknya hanya boleh pada permukaan (kulit) saja dan tidak mencolok (seperti kosmetik).
  2. Restorasi : Menjelaskan proses pengembalian artifak pada kondisi fisik dalam periode yang silam yang berubah sebagai akibat dari perkembangan. Tahap mana yang tepat, ditentukan oleh kesejarahannya atau integritas estetikanya. Intervensi ini lebih radikal dari pada preservasi yang sederhana.
  3. Konservasi dan Konsolidasi : Menjelaskan intervensi fisik terhadap bahan/elemen bangunan yang ada untuk meyakinkan kesinambungan integritas struktural. Ukurannya dapat berkisar dari terapi minor sampai yang radikal.
  4. Rekonstitusi : Bangunan hanya dapat diselamatkan secara bagian per bagian, ditempat semula atau di tapak yang baru.
  5. Penggunaan kembali yang adaptif : Seringkali merupakan cara yang ekonomis untuk menyelamatkan bangunan dengan mengadaptasikannya pada kebutuhan pemilik barunya. Melibatkan intervensi yang agak radikal, terutama pada organisasi ruang dalamnya.
  6. Rekonstruksi : Menjelaskan tentang pembangunan kembali sebuah bangunan yang hilang di tempat semula. Bangunan rekonstruksi bertindak sebagai pengganti tiga dimensional dari struktur asli secara terukur, bentuk fisiknya ditetapkan oleh bukti arkeologis, kearsipan serta literatur.Merupakan salah satu intervensi paling radikal.
  7. Replikasi : Dalam bidang arsitektur, berkenaan dengan konstruksi tiruan bangunan sebenarnya yang masih ada, tapi jauh letaknya. Replika tersebut menyerupai aslinya. Secara fisik replika lebih akurat daripada rekonstruksi, karena prototipnya dapat dipakai sebagai alat kontrol terhadap proporsi , polichrom, tekstur. ini merupakan intervensi paling radikal, tapi mempunyai kegunaan yang spesifik untuk sebuah musium misalnya.

Perhatian khusus dalam preservasi dan konservasi lingkungan bersejarah berbeda dari suatu negara dengan negara lain, akan tetapi beberapa prinsip yang melatar belakangi penting memelihara aset kota atau negara yang disarikan sebagai berikut:

  1. Identitas dan „Sense Of Place‟ : Peninggalan sejarah adalah satu-satunya hal yang menghubungkan dengan masa lalu, menghubungkan kita dengan suatu tempat tertentu, serta membedakan kita dengan orang lain.
  2. Nilai Sejarah : Dalam perjalanan sejarah bangsa, terdapat peristiwa-peristiwa yang penting untuk dikenang, dihormati, dan dipahami oleh masyarakat. Memelihara lingkungan dan bangunan yang bernilai historis menunjukan penghormatan kita pada masa lalu, yang merupakan bagian dari eksistensi masa lalu.
  3. Nilai Arsitektur : Salah satu alasan memelihara lingkungan dan dan bangunan bersejarah adlah karena nilai instrinsiknya sebagai karya seni, dapat berupa hasil pencapaian yang tinggi, contoh yang mewakili langgam/mazhab seni tertentu atau sebagai landmark.
  4. Manfaat ekonomis : Bangunan yang telah ada seringkali memiliki keunggulan ekonomis tertentu. Bukti empiris menunjukan bahwa pemanfaatan bangunan yang sudah ada seringkali lebih murah dari pada membuat bangunan baru. Di negara maju, proyek konservasi telah berhasil menjadi pemicu revitalisasi lingkungan kota yang sudah menurun kualitasnya, melalui program urban renewal dan adaptive-use .
  5. Pariwisata dan Rekreasi : Kekhasan atau nilai sejarah suatu tempat telah terbukti mampu menjadi daya tarik yang mendatangkan wisatawan ke tempat tersebut.
  6. Sumber Inspirasi : Banyak tempat dan bangunan bersejarah yang berhubungan dengan rasa patriotisme, gerakan sosial, serta orang dan peristiwa penting di masa lalu.
  7. Pendidikan : Lingkungan, bangunan dan artefak bersejarah melengkapi dokumen tertulis tentang masa lampau. Melalui ruang dan benda tiga-dimensi sebagai laboratorium, orang dapat belajar dan memahami kehidupan dan kurun waktu yang menyangkut peristiwa, masyarakat, atau individu tertentu, serta lebih menghormati lingkungan alam.

Prinsip-Prinsip Konservasi Menurut Burra Charter

  1. Tujuan akhir konservasi adalah untuk mempertahankan ‘cultural significance’ (nilai-nilai estetik, sejarah, ilmu pengetahuan dan sosial ) sebuah ‘place’ dan harus mencakup faktor pengamanan, pemeliharaan dan nasibnya di masa mendatang.
  2. Konservasi didasarkan pada rasa penghargaan terhadap kondisi awal material fisik dan sebaiknya dengan intervensi sesedikit mungkin. Penelusuran penambahan-penambahan, perbaikan serta perlakuan sebelumnya terhadap material fisik sebuah ‘place’ merupakan bukti-bukti sejarah dan penggunaannya.
  3. Konservasi sebaiknya melibatkan semua disiplin ilmu yang dapat memberikan kontribusi terhadap studi dan penyelamatan ‘place’.
  4. Konservasi sebuah ‘place’ harus mempertimbangkan seluruh aspek „cultural significance’nya tanpa mengutamakan pada salah satu aspeknya.
  5. Konservasi harus dilakukan dengan melalui penyelidikan yang seksama yang diakhiri dengan laporan yang memuat ‘statement of cultural significance‟, yang merupakan prasyarat yang penting untuk menetapkan kebijakan konservasi.
  6. Kebijakan konservasi akan menentukan kegunaan apa yang paling tepat.
  7. Konservasi membutuhkan pemeliharaan yang layak terhadap ‘visual setting’, misalnya: bentuk, skala, warna, tekstur dan material. Pembangunan, peruntukan, maupun perubahan baru yang merusak ‘setting’, tidak diperbolehkan. Pembangunan baru, termasuk penyisipan dan penambahan bisa diterima, dengan syarat tidak mengurangi atau merusak ‘cultural significance place’ tersebut.
  8. Sebuah bangunan atau sebuah karya sebaiknya dibiarkan di lokasi bersejarahnya. Pemindahan seluruh maupun sebagian bangunan atau sebuah karya, tidak dapat diterima kecuali hal ini merupakan satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk menyelamatkannya.
  9. Pemindahan isi yang membentuk bagian dari ‘cultural significance‟ sebuah ‘place‟ tidak dapat diterima, kecuali hal ini merupakan satu-satunya cara yang meyakinkan keselamatannya dan preservasinya.

BAB III

GAMBARAN MUSEUM BAHARI

3.1.Museum Bahari

Pada 1976, kompleks bangunan yang terdiri atas dua bagian, sisi barat yang disebut Gudang Barat (Westzijdsch Pakhueizen) dan Gudang Timur (Oosjzijdsch Pakhuizen) itu, diserahkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kompleks itu diresmikan sebagai Museum Bahari pada 7 Juli 1977.

  1. Langgam Bangunan

Bangunan yang berdiri dengan tiga lantai diatasnya memiliki gaya bangunan khas belanda di abad-16, dengan bukaan jendela yang besar, dinding yang tebal, serta tiang-tiang penyangga yang kuat menunjukan bangunan ini tampak kokoh dan awet hingga sekarang.

Gudang yang diresmikan menjadi Museum Bahari pada tanggal 7 juli 1977 ini secara signifikan mengalami perubahan. Tahun perubahan itu dapat dilihat pada pintu-pintu masuk. Diantaranya tahun 1718, 1719 dan 1771. Pda masa penduduk Jepang, tepatnya ketika perang dunia II meletus (1939-1945) gudang tersebut menjadi tempat logistik peralatan militer tentara Dai Nippon. Setelah Indonesia merdeka difungsikan untuk gudang logistik PLN dan PTT.

  1. Interior

Tata ruang dari gedung yang dulunya gudang rempah-rempah dan sekarang telah dijadikan museum oleh pemerintah DKI Jakarta ini jauh lebih tertata, setiap ruang memiliki koleksi-koleksi yang berbeda sesuai dengan kehidupan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia. Memiliki koleksi sekitar 1835 buah, diantaranya pembagian ruang :

  1. Ruang Masyarakat Nelayan Indonesia

Koleksi yang dipamerkan : miniatur kapal dan peralatan kenelayanan.

  1. Ruang Teknologi Menangkap Ikan

Koleksi yang dipamerkan : pancing, bubu, dan jaring.

  1. Ruang Teknologi Pembuatan Kapal Tradisional

Koleksi yang dipamerkan : teknologi dan sentra pembuatan kapal.

  1. Ruang Biota Laut

Koleksi yang dipamerkan: aneka jenis ikan, kerang, tumbuhan laut, dan dugong.

  1. Ruang Pelabuhan Jakarta 1800-2000 (Pusat Perdagangan Dunia)

Koleksi yang dipamerkan: artefak-artefak yang berhubungan dengan kesejarahan pelabuhan di Jakarta pada rentang tersebut, termasuk meriam, keramik, dan benteng.

  1. Ruang Navigasi

Koleksi yang dipamerkan: kompas, teleskop, dan sejumlah alat bantu navigasi.

  1. Pelayaran Kapal Uap Indonesia-Eropa

Koleksi yang dipamerkan: foto-foto dokumentasi mengenai pelayaran kapal uap pertama dari Eropa ke Asia.

3.1.Kondisi Bangunan Museum Bahari

Ø  Fasad Bangunan

Sumber : http://www.kompasiana.com/bondeewijaya/museum-bahari-batavia-dan-sejarahnya_56e7b536f496731a11cab311

Tampak depan bangunan Museum Bahari terlihat dinding tebal serta atap khas tropis layaknya benteng kecil menunjukan bahwa pada masa itu gudang rempah-rempah ini sangat dijaga ketat oleh bangsa Belanda. Cat dinding berwarna putih serta pembaharuan pada atap serta dua jangkar di depan museum menjadi sikap keseriusan pemerintah DKI Jakarta dalam konservasi museum yang ada di Jakarta.

Ø  Lantai

Sumber : http://www.nativeindonesia.com/mengenal-sejarah-kelautan-di-museum-bahari-jakarta/

Ubin pada Museum Bahari (didalam) masih terjaga sangat baik, maupun diluar bangunan, ini terlihat dari rencana revitalisasi Museum Bahari yang akan dipergunakan sebagai kawasan wisata internasional.

Ø  Jendela dan Plafond

Faktor lokasi yang tidak jauh dari bibir pantai disertai seringnya pasang air laut serta terjangan badai tropis dan juga usia bangunan yang semakin tua membuat bangunan ini melesak dan tenggelam sedalam 80 cm.

Sumber : http://infojakarta.net/wp-content/uploads/2015/12/Museum-Bahari.jpg

Akibat pasang air laut disetiap musim membuat pintu dan jendela terlihat tampak pendek karena melesak kedalam tanah. Akibat fenomena alam tersebut menjadikan plafon dilantai bawah tampak menjadi lebih pendek, membuat pintu masuk ikut semakin pendek membuat wisatawan asing yang memiliki fisik yang lebih tinggi dari orang Indonesia pada umumnya menjadi kesulitan untuk masuk kesetiap ruangnya.

BAB IV

USULAN PENANGANAN PELESTARIAN

4.1.Kesimpulan

Memperkenalkan dunia maritim Indonesia sangatlah penting mengingat siapa nenek moyag kita dari dulu. Museum Bahari merupaka saksi bisu dari sejarah diabad ke-16 dulu yang pernah ada dimana bangunan tersebut merupakan gudang rempah-rempah yang sangat dijaga ketat oleh bangsa Belanda. Langkah pemerintah DKI Jakarta dalam mempertahankan dan melestarikan kebudayaan Belanda dan akan menjadi ikon pariwisata kota.

4.2.Usulan

Konservasi bangunan namun tidak diiringi dengan antusiasme masyarakat lokal dalam menghidupkan kembali museum khususnya Museum Bahari merupakan tindakan besar namun tanpa hasil. Meramaikan kembali museum-museum yang ada merupakan salah satu tindakan pelestarian, ada banyak cara yang dapat dilakukan salah satunya dengan kekuatan media sosial dan media seperti billboard dalam mempromosikan museum. Alternatif lainnya juga bisa dengan melakukan kegiatan seperti public event atau acara-acara yang menarik masyarakat luas di museum.

Keamanan dalam menjaga komplek dari museum juga ikut ambil peran dalam usulan ini sangat penting dikarena melestarikan sebuah bangunan dilihat dari keamanan yang tegas agar bangunan tersebut tetap dalam terjaga, melihat banyaknya preman atau orang-orang yang tidak bertanggung jawab seperti buang sampah sembarangan dan kerusakan material.

source :

http://jerichofidwello.blogspot.co.id/2014/07/bab-i-pendahuluan-1.html (thanks kk Jo)

https://dutamuseumsulawesitengah.wordpress.com/2013/09/16/kiat-menarik-pengunjung/

http://museum-bahari.blogspot.co.id/

http://rizkianstory.blogspot.co.id/2016/06/konservasi-arsitektur-museum-bahari.html

Tugas ke-2 Kritik Arsitektur

ANALISIS BANGUNAN PUBLIK DI DEPOK DENGAN MENGGUNAKAN METODE KRITIK TIPIKAL

Definisi:

Kritik Tipikal adalah sebuah metode kritik dengan membandingkan obyek yang dianalisis dengan bangunan sejenis lainnya, dalam hal ini bangunan publik.

Obyek yang dianalisis : Depok Town Square

Bangunan pembanding sejenis : Cilandak Town Square

 

Depok Town Square(Atas) adalah sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di Jalan Margonda Raya, Depok. Tempat ini merupakan salah satu tempat tujuan untuk berbelanja bagi penduduk yang bermukim di Depok.

Cilandak Town Square(Bawah) adalah sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di daerah Cilandak. Tempat ini merupakan salah satu tempat tujuan untuk berbelanja bagi penduduk yang bermukim di daerah Jakarta Selatan.

Dalam hal ini Citos merupakan salah satu Town Square pertama yang berdiri di kota Jakarta dan telah banyak menginspirasi bangunan publik sejenisnya dalam hal perancangan arsitekturnya. Maka dari itu dengan menggunakan metode kritik tipikal akan dibandingkan kedua bangunan public sejenis ini dengan parameter yang disediakan sehingga dapat diketahui apakah Detos sudah memenuhi standar untuk menjadi sebuah Town Square di kota Depok.

Keterangan :

Detos : Depok Town Square

Citos   : Cilandak Town Square

 

Elemen Struktur :

Jenis Bahan

Detos :

Fasad bangunan        : kaca, beton dan besi

Struktur                      : kolom dan balok beton

Plat Lantai                  : keramik marmer

Citos :

Fasad bangunan        : kaca dan beton

Struktur                      : kolom dan balok beton

Plat Lantai                  : plat beton dengan finishing cat

 

Interior Detos

Interior Citos

 

Sistem Struktur

Detos  : kolom dan balok beton dengan pondasi tiang pancang

Citos    : kolom dan balok beton dengan pondasi tiang pancang

 

Sistem Utilitas

Detos  : sistem utilitas terlihat baik, dan fasilitas pendukung ruangan seperti ac, listrik dan supply air semua berjalan dengan lancar.

 

Citos    : sistem utilitas terlihat baik, dan fasilitas pendukung ruangan seperti ac, listrik dan supply air semua berjalan dengan lancar hanya saja kebersihan dan keterawatannya jauh lebih baik dari Detos.

 

Fungsi Bangunan

Detos  : Bangunan komersial yang lebih mengarah ke pusat perbelanjaan. Oleh karena itu Detos memiliki banyak kios-kios untuk disewakan dibandingkan dengan Citos.

Citos    : Bangunan komersial yang lebih mengarah ke tempat hang-out(berkumpul). Memiliki banyak cafe dan restoran dengan konsep interior yang baik.

 

Bentuk Bangunan

Detos  : Bentuk bangunan terlihat masif dan perancangannya lebih mengutamakan space untuk ruang dalam yang luas(memaksimalkan lahan untuk bangunan). Untuk memberikan efek modern dan asimetris pada fasad diberikan bentukan-bentukan yang unik dengan menggunakan material  yang bervariasi baik warna dan jenisnya.

Fasad Detos

Citos    : Bentuk bangunan memanjang (linier) dan lebih mengutamakan perancangan ruang terbukanya, perancangan interior terlihat lebih terbuka dan sadar l;ingkungan dengan banyaknya teras dan balkon serta awning polikarbonat yang memberikan pencahayaan alami ketika siang hari.

Fasad Citos

Kesimpulan

Dari hasil analisis dengan metode tipikal didapat hasil bahwa bangunan Detos sudah cukup memenuhi kriteria untuk menjadi bangunan publik berdasarkan cukup banyaknya hasil yang sama dari parameter yang dijadikan standar. Citos sebagai bangunan Town Square yang pertama ada di Jakarta telah memberikan inspirasi bagi Depok Town Square untuk mengadopsi nilai-nilai dalam perancangan sebuah Town Square. Ada pun yang masih perlu diperhatikan adalah perancangan ruang terbuka harus diperhatikan agar kesan Town Square semakin terlihat.

 

https://winnerfirmansyah.wordpress.com/category/kritik-arsitektur/

TIPE KRITIK ARSITEKTUR

Kritik Normatif

  1. Definisi

Dalam kritik normatif ini, kritikus mempunyai pemahaman yang diyakini dan kemudian menjadikan norma sebagai tolak ukur, karena kritik normatif merupakan salah satu cara mengkritisi berdasarkan prinsip tertentu yang diyakini menjadi suatu pola atau standar, dengan input dan output berupa penilaian kualitatif maupun kuantitatif.

Source : Yesitsmemahambero

  1. Metode
  • Metode Doktrin

Merupakan metode yang dilihat dari aliran atau paham atau nilai-nilai sosial. Singkatnya, seperti disaat kita membuat sebuah tema perancangan bentuk arsitektur. Tema tersebut adalah doktrin yang kita buat untuk meyakinkan diri sendiri tentang apa yang ingin kita buat.

  • Metode Tipikal

Yaitu suatu pendekatan yang mempunyai uraian urutan secara tersusun. Kebiasaan yang terarah. Contoh. Bangunan sekolah,secara tipikal di tempat manapun di Indonesia selalu memiliki ruang kelas, ruang guru,ruang kepala sekolah, ruang kesenian,  lab, perpustakaan, kantin, gudang, toilet.

  • Metode Ukuran

Ukuran dijadikan sebagai patokan untuk menilai namun pada akhirnya kecenderungan relativitas akan lebih berperan. Sifatnya akan berakhir tidak pasti, relatif, sesuai dengan pemahaman yang diinginkan masing-masing.

  1. Teknik
  • Undang-undang (statute approach)

undang-undang dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani(Ibid., 2011 : 93). Pendekatan perundang-undangan dalam penelitian hukum normatif memiliki kegunaan baik secara praktis maupun akademis.

Bagi penelitian untuk kegiatan praktis, pendekatan undang-undang ini akan membuka kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari adakah konsistensi dan kesesuaian antara suatu undang-undang dengan undang-undang lainnya atau antara undang-undang dengan Undang-Undang Dasar atau regulasi dan undang-undang. Hasil dari telaah tersebut merupakan suatu argumen untuk memecahkan isu yang dihadapi. (Ibid., 2011 : 93-94)

Bagi penelitian untuk kegiatan akademis, peneliti perlu mencari ratio legis dan dasar ontologis lahirnya undang-undang tersebut. Dengan mempelajari ratio legis dan dasar ontologis suatu undang-undang, peneliti sebenarnya mampu mengungkap kandungan filosofis yang ada di belakang undang-undang itu. Memahami kandungan filosofis yang ada di belakang undang-undang itu, peneliti tersebut akan dapat menyimpulkan mengenai ada tidaknya benturan filosofis antara undang-undang dengan isu yang dihadapi. (Ibid.)

  • Kasus (Case Approach)

Kasus dilakukan dengan cara menelaah kasus-kasus terkait dengan isu yang sedang dihadapi, dan telah menjadi putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Kasus ini dapat berupa kasus yang terjadi di Indonesia maupun di negara lain. Yang menjadi kajian pokok di dalam pendekatan kasus adalah rasio decidendi atau reasoning yaitu pertimbangan pengadilan untuk sampai kepada suatu putusan. (Ibid., 2011 : 94)

Secara praktis ataupun akademis, pendekatan kasus mempunyai kegunaan dalam mengkaji rasio decidendi atau reasoning tersebut merupakan referensi bagi penyusunan argumentasi dalam pemecahan isu hukum. Perlu pula dikemukakan bahwa pendekatan kasus tidak sama dengan studi kasus (case study). Di dalam pendekatan kasus (case approach), beberapa kasus ditelaah untuk referensi bagi suatu isu hukum. Sedangkan Studi kasus merupakan suatu studi dari berbagai aspek hukum. (Ibid.)

  • Historis (Historical Approach)

Historis dilakukan dengan menelaah latar belakang apa yang dipelajari dan perkembangan pengaturan mengenai isu hukum yang dihadapi. Telaah demikian diperlukan oleh peneliti untuk mengungkap filosofi dan pola pikir yang melahirkan sesuatu yang sedang dipelajari. Pendekatan historis ini diperlukan kalau memang peneliti menganggap bahwa pengungkapan filosofis dan pola pikir ketika sesuatu yang dipelajari itu dilahirkan, dan memang mempunyai relevansi dengan masa kini. (Ibid., 2011 : 94-95)

  • Komparatif (Comparative Approach)

Komparatif dilakukan dengan membandingkan undang-undang suatu negara, dengan undang-undang dari satu atau lebih negara lain mengenai hal yang sama. Selain itu, dapat juga diperbandingkan di samping undang-undang yaitu putusan pengadilan di beberapa negara untuk kasus yang sama. (Ibid., 2011 : 95)

Kegunaan dalam pendekatan ini adalah untuk memperoleh persamaan dan perbedaan di antara undang-undang tersebut. Hal ini untuk menjawab mengenai isu hukum antara ketentuan undang-undang dengan filosofi yang melahirkan undang-undang itu. Dengan demikian perbandingan tersebut, peneliti akan memperoleh gambaran mengenai konsistensi antara filosofi dan undang-undang di beberapa negara. Hal ini sama juga dapat dilakukan dengan memperbandingkan putusan pengadilan antara suatu negara dengan negara lain untuk kasus serupa. (Ibid.)

  • Konseptual (Conceptual Approach)

Konseptual beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum. dengan mempelajari pandang-pandangan dan doktrin-doktrin di dalam ilmu hukum, peneliti akan menemukan ide-ide yang melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsep-konsep hukum, dan asas-asas hukum relevan dengan isu yang dihadapi. Pemahaman akan pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin tersebut merupakan sandaran bagi peneliti dalam membangun suatu argumentasi hukum dalam memecahkan isu yang dihadapi. (Ibid.)

Source : Fikripodungge

Kritik Impresionis

  1. DefinisiKritik impresionis adalah kritik yang berusaha menggambarkan dengan kata-kata sifat-sifat yang terasa dalam bagian-bagian khusus sebuah karya arsitektur dan menyatakan tanggapan-tanggapan (impresi) kritikus yang ditimbulkan secara langsung. Kritik impresionis menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar bagi pembentukan karya seninya. Ada beberapa bentuk dalam realisasi kritik impresionis, antara lain narasi verbal puisi atau prosa, panduan kata membentuk silhouette, lukisan, imaginasi foto, modifikasi bangunan, dan kartun yang fokus pada bangunan sebagai lelucon.

Source : Subekti

  1. Metode
Masjid Dian Al-Mahri (kubah mas, depok)

Kritik Impressionis (Narasi verbal puisi)

Masjid Dian Al-Mahri (Masjid Kubah Emas)

Subekti Imarwoto

Aku terpaku pada kemegahan itu

Aku diberitahu bahwa itu adalah sebuah masjid

Kemegahan, keindahan, berkilau menyatukan karya elegan

Masjid yang tiangnya terbuat dari pohon hutan

Pondasi terbuat dari batu pilihan

Menara gagah menyentuh lapisan ozon

Dan kubahnya terlapis emas berkilauan

Seperti takkan kusam termakan zaman

Aku terpaku pada keunikan itu

Aku diberitahu bahwa itu tempatMu

Kesucian, kesedihan, dan kekaguman menyatukan karya elegan

Masjid dengan lantai berlapis batu pualam bening

Dindingnya terukir lafaz islami

Penuh dengan ayat suci Al-Quran

Atapnya berjulang ditembus awan

Cerah dan megah

Aku terpaku pada panorama itu

Aku diberitahu masjid itu

Aku diberitahu kemegahan itu bernama

Masjid Dian Al-Mahri
Dikala kesucian, kemegahan, dan kuasaMu menyatukan karya elegan

Source : Sandradesnia 

  1. Bentuk
  • Caligramme : Paduan kata membentuk silhouette
  • Verbal Discourse : Narasi verbal puisi atau prosa
  • Painting : Lukisan
  • Photo image : Imagi foto
  • Modification of Building : Modifikasi bangunan
  • Cartoon : Fokus pada bagian bangunan sebagai lelucon

Source : Mynickisdidit 

  1. Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan

  • Membuat imajinasi tentang bangunan menjadi lebih bermakna
  • Merangsang orang untuk melihat lebih dalam ke arah makna dan arti bangunan
  • Membuat orang untuk melihat karya seni lebih teliti
  • Mampu meyederhanakan suatu analisis objek yang tadinya terasa kompleks•
  • Membuat lingkungan lebih mudah dikenali

Kekurangan

  • Kritik seolah tidak berkait dengan arsitektur
  • Interpretasi menjadi lebih luas dan masuk dalam wilayah bidang ilmu lain
  • Pesan perbaikan dalam arsitektur tidak tampak secara langsung
  • Menghasikan satu interpretasi yang bias tentang hakikat arsitektur.Source : Mynickisdidit 

Kritik Interpretif

  1. DefinisiKritik Interpretif (interpretive criticism) yang berarti adalah sebuah kritik yang menfsirkan namun tidak menilai secara judge menta, kritikus pada jenis ini di pandang sebagai pengamatan yang profesional.bentuk kritik cenderung subjektif dan bersifat mempengaruhi pandangan orang lain agar sejalan dengan pandangan kritikus tersebut. Dalam penyajiannya menampilkan sesuatu yang baru atau memandang sesuatu bangunan dari sudut pandang lain.

Source : Chuky

  1. Metode

Objek : Koshino House karya Tadao Ando

Menurut Siswono Yudohusodo (Rumah Rakyat untuk seluruh rakyat 1991,432) Rumah adalahbangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Fungsi lainnyayakni sebagai pelindung dari iklim dan makhluk hidup lainnya serta tempat awal pengembangn kehidupan. Bukan hanya itu, bagi saya rumah adalah tempat pulang terindah. Karena dirumah kita dapat melihat keluarga berkumpul bersama dan menikmati momen yang berharga. Dimana keluarga adalah bagian terpenting kedua setelah Tuhan.

Bicara mengenai rumah, rumah yang baik kiranya memenuhi syarat, dimana kita tahu bangunan yang baik menurut Vitruvius harus memenuhi 3 sistem syarat yakni dari segi kekuatan (firmitas), fungsi (utilitas) dan juga keindahan (venustas). Namun tidak hanya itu, yang terpenting dari rumah adalah dampak terhadap penghuninya. Rumah tersebut memberi pengaruh apa terhadap penghuni di dalamnya.  Sehigga terjadinya komunikasi antara penghuni dan rumah untuk saling terintegrasi.

Bagi saya rumah tidak harus melihat dari faktor keindahannya saja setelah faktor kekuatan dan fungsi sudah terpenuhi, karna nyatanya saat ini faktor ekonomis juga dipikirkan. Banyak rumah yang di desain sedemikian rupa dan bahkan juga menggunakan bahan material yang berkualitas dengan harga yang cukup mahal. Namun itu semua tergantung si empunya rumah, karena keinginan dan kebutuhan setiap orang berbeda. Ada yang menyukai rumah klasik dengan detail-detail ornamennya, ada yang menyukai rumah dengan gaya minimalis yang lebih terlihat clean dan berkesan kekinian atau bahkan ada pula yang menyukai rumah tradisional untuk menghadirkan kesan alam yang kental.

Lebih dari itu, ada sesuatu yang semestinya kita dapat dari suatu rumah, yakni soul (jiwa) yang hadir dari rumah tersebut. Dalam buku Wastu Citra, sesuatu yang benar itu indah. Begitulah ketika saya melihat Khosino House karya arsitek jepang Tadao Ando. Arsitek yang memiliki karakter pada bangunannya yakni dengan bentuknya yang lingkaran dan geometris, penggunaan beton (concrete) polos, pemanfaatan cahaya alami dan udara serta bentuk bangunan yang mengikuti landscape di sekitarnya. Dengan desain dari bentuk yang sederhana, tidak banyak ornamen namun berkarakter kuat, benar dan indah. Dan lebih dari itu saya melihat dan seakan merasakan ada jiwa di dalamnya.

Dalam artikel yang saya baca, Khosino House adalah desain yang memiliki makna yang bisa berubah-ubah sesuai perubahan cahaya dan aliran udara (angin). Yang berari sang arsitek tidak hanya memabngun melainkan juga memikirkan konsep bangunanya secara matang.

Source : Oktavindah

  1. Teknik
  • Kritik Evokatif (kiritik yang membangkitkan rasa)

Menggugah pemahaman intelektual atas makna yang dikandung pada suatu bangunan. Sehingga kritik ini tidak mengungkap suatu objek itu benar atau salah melainkan pengungkapan pengalaman perasaan akan ruang. Metode ini bisa disampaikan dalam bentuk naratif (tulisan) dan fotograifs (gambar).

  • Kritik Advokatif (kritik yang membela, memposisikan diri seolah-olah kita adalah arsitek tersebut).

Kritik dalam bentuk penghakiman dan mencoba mengarahkan pada suatu topik yang dipandang perlu. Namun bertentangan dalam hal itu kritikus juga membantu melihat manfaat yang telah di hasilkan oleh arsitek sehingga dapat membalikkan dari objek bangunan yang sangat menjemukan menjadi bangunan yang mempesona.

  • Kritik Impresionis (Imppressionis Crticism) (Kritik dipakai sebagai alat untuk melahirkan karya seni baru)

Kritik ini menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar bagi pembentukan karya seninya

Kritik impresionis dapat berbentuk :

  1. Verbal discourse (narasi verbal puisi atau prosa)
  2. Caligramme (paduan kata)
  3. Painting (lukisan)
  4. Photo image (imagi foto)
  5. Modification of building 9modifikasi bangunan)
  6. Cartoon (menampilkan gambar bangunan dengan cara yang lebih menyenangkan)Source : Chuky
  1. Kelebihan dan Kekurangan
  • Kelebihan

Didalam kritik ini, tindakan seorang interpreter atau pengamat tidak mengklaim satu doktrin, sistem, tipe atau ukuran

  • Kekurangan

Hanya menyajikan satu arah topik yang dipandang perlu untuk kita perhatikan secara bersama tentang bangunan.

Kritk Tipikal

 1. Definisi
Kritik dengan metode tipikal merupakan menganalisis suatu bangunan dengan standar dari suatu tipe bangunan yang sudah ada, baik dari struktur, fungsi, maupun bentuknya. Studi tipe bangunan ini lebih didasarkan pada kualitas, fungsi, dan ekonomi lingkungan arsitektur yang telah distandarisasi dan terangkum dalam suatu tipologi. Sekarang ini tipe dari suatu bangunan telah didesain lebih mudah dengan didasarkan pada tipe yang telah standar bukan pada keaslian inovasi. Akan tetapi, adanya pemecahan standar ini telah menjadi suatu inovasi dalam pemecahan kompleksitas sehingga dalam merancang bangunan.
2. Metode
  • Studi tipe bangunan saat ini telah menjadi pusat perhatian teoritikus dan sejarawan arsitektur karena desain menjadi lebih mudah dengan mendasarkannya pada type yang telah standard, bukan pada innovative originals (keaslian inovasi)
  • Studi tipe bangunan lebih didasarkan pada kualitas, fungsi (utility) dan ekonomi lingkungan arsitektur yang telah terstandarisasi dan terangkum dalam satu typologi
  • Menurut Alan Colquhoun (1969), Typology & Design Method, in Jencks, Charles, “Meaning in Architecture’, New York: G. Braziller : Type pemecahan standard justru disebut sebagai desain inovatif. Karena dengan ini problem dapat diselesaikan dengan mengembalikannya pada satu convensi (type standard) untuk mengurangi kompleksitas.
  • March, Lionel and Philip Steadman (1974), The Geometry of Environment, Cambridge : MIT Press, bahwa pendekatan tipopolgis dapat ditunjukkan melalui tiga rumah rancangan Frank Lloyd Wright didasarkan atas bentuk curvilinear, rectalinear dan triangular untuk tujuan fungsi yang sama.
  • Typical Criticsm diasumsikan bahwa ada konsistensi dalam pola kebutuhan dan kegiatan manusia yang secara tetap dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan lingkungan fisik
 3. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan
  • Desain dapat lebih efisien dan dapat menggantungkan pada tipe tertentu
  • Tidak perlu mencari lagi panduan setiap mendesain
  • Tidak perlu menentukan pilihan-pilihan visi baru lagi
  • Dapat mengidentifikasi secara spesifik setiap kasus yang sama
  • Tidak memerlukan upaya yang membutuhkan konteks lain

Kekurangan

  • Desain hanya didasarkan pada solusi yang minimal
  • Sangat bergantung pada tipe yang sangat standard
  • Memiliki ketergantungan yang kuat pada satu type
  • Tidak memeiliki pemikiran yang segar
  • Sekadar memproduksi ulang satu pemecahan

Kritik Terukur

1. Definisi
Sekumpulan dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan dengan baik secara kuantitatif. Metode kritik dengan melihat ukuran dan besaran ruang yang digunakan dalam sebuah bangunan dengan acuan standarisasi dengan bangunan lainnya. dan juga dapat mengacu pada standarisasi yang telat ditetapkan dalam Data Arsitektur (Neufert Architect’s Data) dan Time Saver.
2. Metode
  • Kritik Pengukuran menyatakan satu penggunaan bilangan atau angka hasil berbagai macam observasi sebagai cara menganalisa bangunan melalui hukum-hukum matematika tertentu.
  • Norma pengukuran digunakan untuk memberi arah yang lebih kuantitatif. Hal ini sebagai bentuk analogi dari ilmu pengetahuan alam.
  • Pengolahan melalui statistik atau teknik lain akan mengungkapkan informasi baru tentang objek yang terukur dan wawasan tertentu dalam studi.
  • Bilangan atau standard pengukuran secara khusus memberi norma bagaimana bangunan diperkirakan pelaksanaannya.
  • Standardisasi pengukuran dalam desain bangunan dapat berupa : Ukuran batas minimum atau maksimum, Ukuran batas rata-rata (avarage), Kondisi-kondisi yang dikehendaki Contoh : Bagaimana Pemerintah daerah melalui Peraturan Tata Bangunan menjelaskan beberapa sandard normatif : Batas maksimal ketinggian bangunan, sempadan bangunan, Luas terbangun, ketinggian pagar yang diijinkan.
  • Adakalanya standard dalam pengukuran tidak digunakan secara eksplisit sebagai metoda kritik karena masih belum cukup memenuhi syarat kritik sebagai sebuah norma Contoh : Bagaimana Huxtable menjelaskan tentang kesuksesan perkawinan antara seni di dalam arsitektur dengan bisnis investasi konstruksi yang diukur melalui standardisasi harga-harga.
  • Norma atau standard yang digunakan dalam Kritik pengukuran yang bergantung pada ukuran minimum/maksimum, kondisi yang dikehendaki selalu merefleksikan berbagai tujuan dari bangunan itu sendiri.
  • Tujuan dari bangunan biasanya diuraikan dalam tiga ragam petunjuk sebagai beikut: Tujuan Teknis ( Technical Goals) Tujuan Fungsi ( Functional Goals) Tujuan Perilaku ( Behavioural Goals)
Source : Sandradesnia
3. Teknik
Stabilitas Struktur
  • Daya tahan terhadap beban struktur
  • Daya tahan terhadap benturan
  • Daya dukung terhadap beban yang melekat terhadap bahan
  • Ketepatan instalasi elemen-elemen yang di luar sistem
Ketahanan Permukaan Secara Fisik
  • Ketahanan permukaan
  • Daya tahan terhadap gores dan coretan
  • Daya serap dan penyempurnaan air
Kepuasan Penampilan dan Pemeliharaan
  • Kebersihan dan ketahanan terhadap noda
  • Timbunan debu
  • Bangunan tidak saja bertujuan untuk menghasilkan lingkungan yang dapat berfungsi dengan baik tetapi juga lebih kepada dampak bangunan terhadap individu dan Kognisi mental yang diterima oleh setiap orang terhadap kualitas bentuk fisik bangunan. Behaviour Follow Form
  • Lozar (1974), Measurement Techniques Towards a Measurement Technology in Carson, Daniel,(ed) “Man- Environment Interaction-5” Environmental Design Research Association, menganjurkan sistem klasifikasi ragam elemen perilaku dalam tiga kategori yang relevan untuk dapat memandang kritik sebagai respon yang dituju :
  • Persepsi Visual Lingkungan Fisik
  • Menunjuk pada persepsi visual aspek-aspek bentuk bangunan. Bahwa bentuk-bentuk visual tertentu akan berimplikasi pada kategori-kategori penggunaan tertentu.
  • Sikap umum terhadap aspek lingkungan fisik
  • Hal ini mengarah pada persetujuan atau penolakan rasa seseorang terhadap berbagai ragam objek atau situasi.
  • Hal ini dapat dipandang sebagai dasar untuk mengevaluasi variasi penerimaan atau penolakan lingkungan lain terhadap keberadaan bangunan yang baru.
  • Perilaku yang secara jelas dapat diobservasi secara langsung dari perilaku manusia.
  • Dalam skala luas definisi ini berdampak pada terbentuknya pola-pola tertentu (pattern) seperti : Pola pergerakan, jalur-jalur sirkulasi, kelompok-kelompok sosial dsb.
  • Dalam skala kecil menunjuk pada faktor-faktor manusia terhadap keberadaan furniture, mesin atau penutup permukaan.
  • Teknik pengukuran dalam evaluasi perilaku melalui survey instrumen-instrumen tentang sikap, mekanisme simulasi, teknik interview, observasi instrumen, observasi langsung, observasi rangsangan sensor.
Source : Oshayefta

Hoan Kiem Lake

data=RfCSdfNZ0LFPrHSm0ublXdzhdrDFhtmHhN1u-gM,tTSHmJPvRjE9u_YNoCB7IvMblPkDN2knBODSAGEDPqziQGkVTFsddG0yv6FLImnx6bfRpWyNfnFgH9vb1x31eQMP8AQbEhxvVZwuOKC6dvuHxs52Q6sLFofrgfSxAdv1kylPbdEglkQP2kYufPd6Ssu38NAG_cENbV7uCYvir1J_Q2rzxH8HoanKiem-lake2

Legends


The tale goes that Le Loi King came across a shining metal bar when he visited his friend. It turned out that his friend caught the bar in one of his attempts for fish. The King asked for the bar, brought it home and moulded it into a sword. All of a sudden, there was two words printed on the sword “Thuan Thien” (harmonious with heaven).

Le Loi then understood that the sword was a gift from heaven. He used it for the battle against the war with a neighbouring country. At the beginning of 1428, when peace prevailed, on one of his trip to the Thuy Quan (now Hoan Kiem) Lake, there was a tortoise rising above water and shouting: “Please return the sword to the Dragon King”. Without hesitation, the King threw the sword to the lake. The tortoise took the sword and dove down the water. From then on, Thuy Quan became Hoan Kiem lake.

About the lake


The lake is not only special in her history. The water color of Hoan Kiem Lake is not commonly found in other lakes elsewhere in the country: greenish, with dark or light shade depending on the reflection of the sky. The lake is full of tortoise, which is second to none to be found among Vietnamese lakes. If you are lucky, you will catch sight of these giant animals rising out of water. And because tortoise is considered a sacred animal in Vietnam’s culture (along with dragon, phoenix and unicorn), Hoan Kiem Lake then become a holy place that nurtures tortoise.

Before and even after Hanoi’s massive expansion in 2009, Hoan Kiem lake is still a pride of all Hanoians and the center for any distance measurement. Nowadays, it’s still a gathering place yet new Hanoians may live too far to count their distance to the lake. Still, as you walk by, you will be able to witness the pace of life in this peculiar city.

Activities


If you can wake up early in the morning, at about 5 a.m., you will see lines and lines of oldies and teenagers doing anything from yoga to tai-chi to aerobics (read Our Blog on early morning exercises in Hanoi). It looks as if the whole city was up and running for morning exercise. They work out in group or by themselves, with or without equipment. In the course of one of the high profiled meetings in Hanoi, an Australian prime minister also joined the early jogging around the lake.

In the afternoon to the South end you can see a matrix of motorbikes twisting along the lake. Blending in is a gang of “cyclo” – the famous three-wheeled carriers that take tourists with cameras handy around. To the North end where the old quarters lies, an influx of colourfulclothes and shoes will dazzle you, together with the smell of trees and coffees.

When darkness takes over, you can see couples holding hands walking side by side along the lake, trying to breathe in the breeze of summer night or keep warmth against the winter cold. If you have time and really want to observe Hanoi’s life, sit down on one of the stone bench, enjoy the view and have a good talk with some local friends over an ice-cream cone.

Classification

Turtle Tower (Tháp Rùa) on Hoàn Kiếm Lake, the natural habitat of the turtle in central Hanoi

Through work by Farkas et al., most authorities classify leloii as a junior synonym of the Yangtze giant softshell turtle.[1] However, some Vietnamese biologists, such as Hà Đình Đức, who first described leloii, and Le Tran Binh insist that the two turtles are not the same species. Le points out genetic differences as well as differences in morphology.[3] However, Farkas et al. repeated their 2003 conclusion in 2011, stating that differences between specimens may be due to age and that the genetic sequences used were never sent to GenBank. They also criticized the fact that Le et al. violated ICZN Code by renaming the species from leloii tovietnamensis on the grounds of “appropriateness”.[4] Another genetic test was done in 2011 when the turtle was rescued and cleaned, which allegedly showed it to be female and distinct from the R. swinhoei of China and Đồng Mô, Vietnam. However, the results were not formally announced, and some are skeptical of these results, given the difficulty of sexing turtles and the lack of the claimed genetic proof.[5]

Đức has also hypothesized that Emperor Thái Tổ of the Lê Dynasty brought the turtles from Thanh Hóa Province and released them in Hoàn Kiếm Lake. Recently, Đức and some researchers found skeletons of giant turtles in Yên BáiPhú Thọ and Hòa Bình provinces.[6]

Mythology

220px-Kim_Qui_and_the_Restored_Sword_(Hoan_Kiem)_in_ceramics

Depiction of the turtle Kim Qui with the Restored Sword, in the temple of Hoàn Kiếm

Stories of the Hoàn Kiếm turtle began in the fifteenth century with Lê Lợi, who became an emperor of Vietnam and founder of the Lê Dynasty. According to legend, Lê Lợi had a magic sword given to him by Kim Qui, the Golden Turtle God. One day, not long after the Chinese had accepted Vietnam’s independence, Lê Lợi was out boating on a lake inHanoi. Suddenly a large turtle surfaced, took the sword from Lê Lợi, and dove back into the depths. Efforts were made to find both the sword and the turtle, but without success. Lê Lợi then acknowledged the sword had gone back to the Golden Turtle God and renamed the lake Hoàn Kiếm Lake (or Hồ Gươm), “The Lake of the Returned Sword”.

Rediscovery

A preserved turtle on display in the Temple of the Jade Mountain

Near the northern shore of Hoàn Kiếm Lake lies Jade Island, on which the Temple of the Jade Mountain is located. On June 2, 1967, a Hoàn Kiếm turtle died from injuries caused by an abusive fisherman that was ordered to net the turtle and carry it, but instead hit the turtle with a crowbar. The turtle’s body was preserved and placed on display in the temple. That particular specimen weighed 200 kg (440 lbs) and measured 1.9 metres long (6 ft 3 in).[6] Until that time, no one was sure if the species still lived.

On March 24, 1998, an amateur cameraman caught the creature on video, conclusively proving the elusive creatures still survived in the lake.[7] Prior to its recent rediscovery, the turtles were thought to be only a legend and were classified as cryptozoological.[8]

In 2000, professor Hà Đình Đức gave the Hoàn Kiếm turtle the scientific name Rafetus leloii.[6]

Presently, if R. leloii is considered to be identical to R. swinhoei, there are four living individuals. Three turtles are in captivity, two of them in Chinese zoos and another in Đồng Mô (which appears to be a R. swinhoei), while the fourth being the controversial specimen in Hoàn Kiếm Lake.[9]

By the Spring of 2011, concerned with the Hoàn Kiếm specimen’s more frequent than usual surfacing, and apparent lesions on its body, the city authorities started attempts to capture the giant reptile of Hoàn Kiếm Lake, and take it for medical treatment. On February 9, a local turtle farm operator, KAT Group, was chosen to prepare a suitable net to capture the sacred animal.[10] The first attempt, on March 8, 2011, failed, as the turtle made a hole in the net with which the workers tried to capture it, and escaped.[11] An expert commented, “It’s hard to catch a large, very large soft-shell turtle.”[10] On March 31, in an unusual act, the turtle went to the shore to bask in the sun.[12]Finally, on April 3, 2011, the giant turtle was netted in an operation that involved members of the Vietnamese military. The captured creature was put into an enclosure constructed on an island in the middle of the lake, for study and treatment.[11][13] According to the scientists involved, the turtle was determined to be female, and genetic research suggested it was distinct from the R. swinhoei turtles in China, and Đồng Mô in Vietnam. [14]

Some witnesses believe there are at least two or three turtles living in Hoàn Kiếm Lake and that the “smaller” one appears more regularly. Đức is critical of these suggestions.[15]

Conservation concerns

Despite eyewitness sightings of two or more turtles, Professor Đức believes that there is only one specimen left in Hoàn Kiếm Lake.[6] Peter Pritchard, a renowned turtle biologist, believes that there are no more than five specimens left.[16]

The lake itself is both small and shallow, measuring 200 metres wide, 600 metres long, and only two meters deep. It is also badly polluted, although the turtles could conceivably live underwater indefinitely, coming to the surface only for an occasional gulp of air or a bit of sun. According to Pritchard, the turtles are threatened by municipal “improvements” around the lake. The banks have been almost entirely cemented over, leaving only a few yards of rocky beach where a turtle might find a place to bury her clutches of 100 or more eggs.[16]

Plans are underway to clean the lake of pollution, and the construction of an artificial beach has been proposed to facilitate breeding.[7] Dredging the lake, to clean up its bottom, was carried out in February and March 2011.[10]

sumber :

http://en.wikipedia.org/wiki/Hoan_Kiem_turtle

http://www.vietnamonline.com/attraction/hoan-kiem-lake.html

Ho Chi Minh

220px-Ho_Chi_Minh_1946

Ho Chi Minh
Ho Chi Minh (1946)
Ketua Komite Sentral dari Partai Komunis Vietnam
Masa jabatan
19 Februari 1951 – 2 September 1969
Didahului oleh posisi didirikan
Digantikan oleh posisi dihapuskan
Sekretaris Pertama dari Komite Sentral dari Partai Komunis Vietnam ke-6
Masa jabatan
1 November 1956 – 10 September 1960
Didahului oleh Trường Chinh
Digantikan oleh Lê Duẩn
Presiden Vietnam
Presiden Demokratik Republik Vietnam
Masa jabatan
2 September 1945 – 2 September 1969
Didahului oleh Posisi didirikan
Digantikan oleh Tôn Đức Thắng
Masa jabatan
2 September 1945 – 20 September 1955
Didahului oleh Posisi didirikan
Digantikan oleh Phạm Văn Đồng
Informasi pribadi
Lahir Nguyễn Sinh Cung
19 Mei 1890
Nghệ AnIndochina Perancis
Meninggal 2 September 1969 (umur 79)
HanoiVietnam Utara
Kebangsaan  Vietnam
Partai politik Partai Pekerja Vietnam
Tanda tangan

Hồ Chí Minh (chữ nôm: 胡志明) (19 Mei 1890 – 2 September 1969) adalah seorang tokoh revolusi dan negarawan Vietnam, yang kemudian menjadi Perdana Menteri (1954) dan Presiden Vietnam Utara (1954 – 1969). Selain itu, Ho Chi Minh merupakan salah satu politisi yang paling berpengaruh di abad-20.[1]

Nama aslinya adalah Nguyễn Sinh Cung, dan juga dikenal sebagai Nguyễn Tất ThànhNguyễn Ái Quốc (sebuah nama yang sering digunakan orang lainnya juga), Lý ThụyHồ Quang dan akrab dipanggil Bác Hồ (paman Hồ) di Vietnam. Kota Saigon yang dulunya merupakan ibukota Vietnam, diganti menjadi kota Ho Chi Minh untuk mengenang jasanya.

Kehidupan Pribad

Ho Chi Minh dilahirkan pada 19 Mei 1890 di Hoang Tru dengan nama asli Nguyen Sinh Cung, namun kemudian berganti nama menjadi Ho Chi Minh yang berarti “Dia yang menerangi”.[2] Ayahnya Ho bekerja di kekaisaran namun dipecat karena mengkritik kolonial Perancis yang ketika itu sedang menjajah Vietnam (atau di masa itu dikenal sebagai Perancis Indochina).[3] Ibunya meninggal pada tahun 1901, setelah melahirkan anak keempatnya yang hanya bertahan hidup selama 1 tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di sekolah setempat tahun 1907, Ho dan saudara lelakinya pergi ke kota Hué untuk belajar diFranco-Vietnamese Academy. Namun, tiga tahun kemudian Ho meninggalkan tempat tersebut sebelum menyelesaikan pendidikannya dan bekerja sebagai guru sekolah di kota Phan Thiet.[2]

Pada tahun 1911, Ho pergi ke Saigon dan mendapatkan pekerjaan sebagai juru masak kapal uap Perancis. Selama dua tahun, dia berkeliling ke berbagai kota di Eropa, Amerika, dan Afrika hingga akhirnya menetap sementara di London.[2] Pada akhir tahun 1916, Ho kembali ke Perancis untuk menemui rekan-rekannya yang kelak berperan dalam gerakan kemerdekaan Vietnam.[4] Pada tahun 1919, Ho menulis sebuah petisi yang menuntut diakhirinya ekploitasi koloni Perancis terhadap Vietnam. Petisi tersebut disampaikan dalam Versailles Peace Conference yang diselenggarakan di akhir Perang Dunia I. Walaupun petisi tersebut tidak diakui secara resmi, namun usaha Ho tersebut diketahui secara luas di Vietnam.[2]

Sebagian besar sumber menyatakan bahwa Ho tidak pernah menikah selama hidupnya. Namun, beberapa buku menyebutkan Ho pernah menikah di Cina dengan seorang Bidan yang bernama Tang Tuyet Minh pada 18 Oktober 1926.[5] Selain itu, sumber lain juga menyebutkan bahwa Ho berhubungan dengan beberapa wanita, yaitu Nguyen Thi Minh Khai (pemimpin Partai Komunis Indocina), Mao Tu Man (kolega Mao Ze Dong), dan beberapa wanita lainnya.[6]

Peran Ho Chi Minh di Dunia Politik

Ho Chi Minh (1921) dalam Kongres Komunis Perancis di Marseille.

Pidato pertama Ho Chi Minh berbicara mengenai perlawanan terhadap imperialisme yang melakukan tindak kekerasan di Vietnam. Pidator yang disampaikan pada tahun 1920 di sebuah kongres Partai Sosialis Perancis tersebut bermaksud mengajak partai mendukung para penduduk lokal Vietnam yang tertindas. Ho kemudian menjadi salah satu pendiri Partai Komunis Perancis karena dia merasa kaum sosialis menghindari isu kolonialisme, sedangkan kaum komunis bersedia mempromosikan kebebasan nasional.[7]

Pada tahun 1921, Ho bersama dengan kelompok pendatang dari AlgeriaSenegalIndia Selatan, dan Asia yang terbuang di Paris membentuk surat kabar mingguan yang disebut Le Paria (Orang Buangan). Kelompok ini disatukan oleh semangat nasionalisme dan perlawanan yang sama menentang komunisme.[7] Sejak tahun 1923, Ho Chi Minh pergi mengunjungi Rusia dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin Soviet, seperti Nikolai BukharinLeon Trotsky, dan Joseph Stalin. Di Rusia, Ho dilatih sebagai agen Komintern (Komunis Internasional) dan juga mempelajari pemikiran Marxisme-Leninisme, serta teknik revolusioner di Communist University of the Toilers of the East (sering dikenal sebagai Sekolah Stalin).[2][7] Komintern adalah suatu gerakan sosialis internasional yang memiliki agen di berbagai negara untuk menyebarkan revolusisosialisme, dan mengelola cabang organisasi komunis di luar negeri.[2]

Pada 1925, Ho pergi ke Canton, Cina dan bekerja sebagai penerjemah bagi Mikhail Borodin, sesama agen Komintern, yang ingin menggerakkan revolusi sosialis di Cina. Ho dan Borodin membantu Chiang Kai-shek agar dapat menjadi penerus Sun Yat Sen. Semasa di Cina, Ho mengajak pengungsi Vietnam mendirikan Pekumpulan Pemuda Revolusioner Vietnam (Thanh Nien Cach Menh Dong Chi Ho) atau sering disebut Thanh Nien. Pada tahun 1927, Ho kembali ke Rusia selama beberapa tahun, namun beberapa kali kembali ke Cina untuk merekrut anggota Thanh Nien.

Pada tahun 1930, Ho Chi Minh mendirikan Partai Komunis Vietnam atau Partai Komunis Indocina di Hongkong. Setahun kemudian, Ho ditangkap oleh pemerintah Inggris karena terlibat dalam kegiatan revolusioner dan dipenjara selama dua tahun. Setelah dilepaskan, Ho tinggal di Rusia hingga tahun 1938. Ho kemudian menjadi penasihat militer Partai Komunis Tiongkok saat Jepang melakukan invasi ke Cina.

Gerakan Kemerdekaan Vietnam

Deklarasi Kemerdekaan Vietnam oleh Ho Chi Minh di Ba Dinh Square (1945).

Untuk pertama kalinya setelah 30 tahun meninggalkan Vietnam, Ho Chi Minh kembali ke negaranya pada tahun 1941 dan mendirikan Liga untuk Kemerdekaan Vietnam (Viet Nam Doc Lap Dong Minh atau Viet Minh). Liga tersebut terdiri dari para nasionalis Vietnam dan kelompok komunis yang mendukung kemerdekaan Vietnam. Ketika itu, Viet Minh berjuang melawan kolonial Perancis dan Jepang yang saat itu sedang menduduki Vietnam.

Pada akhir Perang Dunia II, Ho memimpin Viet Minh untuk secara bergerilya menguasai kota-kota besar di Vietnam. Pada 2 September 1945, bertempat di Lapangan Ba Dinh, Ho Chi Minh mendeklarasikan kemerdekaan Republik Demokrasi Vietnam dan dia menjabat sebagai presiden pertama. Tidak lama kemudian, Perancis berhasil menaklukkan Vietnam Selatan kembali dan mengajak kaum komunis Vietnam untuk berunding. Perundingan tersebut tidak mencapai kesepakatan dan Perancis menyerang kota Haiphong di bagian utara Vietnam hingga menewaskan ribuan orang. Sebagai tanggapan terhadap serangan tersebut, Viet Minh menyerang Perancis di kota Hanoipada 19 Desember 1945 dan peristiwa ini menandai berawalnya Perang Indocina. Selama delapan tahun, Mao Zedong menolong Viet Minh, sedangkan Amerika Serikat membantu Perancis dan pasukan anti-komunis Vietnam. Pada tahun 1954, Perancis mengalami kekalahan besar di Dien Bien Phu, barat laut Vietnam dan memulai adanya perundingan damai.[8] Berdasarkan hasil perundingan Jenewa, Vietnam kemudian dibagi menjadi Vietnam Utara yang dipimpin Ho Chi Minh dan Vietnam Selatan yang dikuasai oleh Kaisar Bao Dai. Ho tidak menyetujui adanya pemisahan wilayah Vietnam. Ho sempat menyatakan diri memiliki kekuasaan atas seluruh wilayah Vietnam dan memerintahkan Viet Minh dan pasukan Vietnam Utara untuk berjuang di daerah Vietnam Selatan yang dipengaruhi oleh Amerika Serikat. Kemudian terjadilah perang saudara antara pendukung Ho (sebagian besar di Vietnam Utara) dan Vietnam Selatan di bawah pengaruh Amerika Serikat.[9]

Pada akhir tahun 1950-an, Ho membentuk suatu gerakan gerilya komunis di bagian Vietnam Selatan yang bernama Viet Cong. Bersama dengan Vietnam Utara, Vietcong berhasil mengalahkan intervensi militer Amerika Serikat selama satu dekade dan bersembunyi dari Perdana Menteri Ngo Dinh Diem (pimpinan Vietnam Selatan yang didukung oleh AS) di bawah tanah.[2]

Akhir Hidup

Mouseleum Ho Chi Minh, tempat jenazah Ho diletakkan.

Sejak tahun 1960, Ho mulai mundur dari pengambilan keputusan mengenai perang karena kondisi kesehatannya yang kurang memungkinkan. Ho Chi Minh dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, hemat, berpakaian santai, berbicara dengan tenang, jarang kehilangan kesabaran, dan sering berbicara dengan penduduk, terutama anak-anak. Sebelum meninggal, Ho berpesan agar tubuhnyadikremasi dan abunya disebarkan tanpa publikasi. Namun, ketika Ho meinggal pada 2 September 1969 pukul 9.47 pagi, di usia 79 tahun, jasad Ho diawetkan dan diletakkan dalam mausoleum Ho Chi Minh, Lapangan Ba Dhin, Hanoi dan terbuka untuk publik.[10] Para pihak yang bertikai di seluruh Vietnam sepakat untuk mengadakan gencatan senjata selama 72 jam untuk mengenang Ho yang meninggal akibat serangan jantung.[11] Ho meninggal tepat 25 tahun setelah dia mendeklarasikan kemerdekaan Vietnam dari Perancis dan hampir enam tahun sebelum pasukannya berhasil menyatukan Vietnam Utara dan Selatan di bawah paham komunis.[8]

Ho Chi Minh merupakan pahlawan terbesar bagi bangsa Vietnam karena jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan dan penyatuan Vietnam. Ketika pasukan Vietnam Utara berhasil menaklukkan Saigon pada tahun 1975 dan menandai penyatuan Vietnam, maka kota tersebut diganti menjadi kota Ho Chi Minh.[2]

War Remnants Museum

War Remnants Museum

200px-War_Remnants_Museum,_HCMC,_front

Bảo tàng chứng tích chiến tranh
War Remnants Museum, main building
Established 1975
Location District 3Ho Chi Minh City,Vietnam
Coordinates 10.779475°N 106.692132°ECoordinates10.779475°N 106.692132°E
Type War museum
Visitors approx. 500,000/year (2009)
Owner Government of Vietnam
Nearest car park no

The War Remnants Museum (VietnameseBảo tàng chứng tích chiến tranh) is a war museum at 28 Vo Van Tan, in District 3Ho Chi Minh City (Saigon),Vietnam. It primarily contains exhibits relating to the American War (known in the USA as the Vietnam War) also known as the second Indochina War, but also includes many exhibits relating to the first Indochina War involving the French colonialists.

History

Operated by the Vietnamese government, an earlier version of this museum opened on September 4, 1975, as the “Exhibition House for US and PuppetCrimes” (VietnameseNhà trưng bày tội ác Mỹ-ngụy), located in the premises of the former United States Information Agency building. The exhibition was not the first of its kind for the North Vietnamese side, but rather followed a tradition of such exhibitions exposing war crimes, first those of the French and then those of the Americans, who had operated at various locations of the country as early as 1954.[1]

In 1990, the name was changed to Exhibition House for Crimes of War and Aggression (Nhà trưng bày tội ác chiến tranh xâm lược), dropping both “U.S.” and “Puppet.”[1] In 1995, following the normalization of diplomatic relations with the United States and end of the US embargo a year before, the references to “war crimes” and “aggression” were dropped from the museum’s title as well; it became the “War Remnants Museum” (Bảo tàng Chứng tích chiến tranh).[1]

Exhibits

The museum comprises a series of themed rooms in several buildings, with period military equipment placed within a walled yard. The military equipment includes a UH-1 “Huey” helicopter, an F-5Afighter, a BLU-82 “Daisy Cutter” bomb, M48 Patton tank, an A-1 Skyraider attack bomber, and an A-37 Dragonfly attack bomber. There are a number of pieces of unexploded ordnance stored in the corner of the yard, with their charges and/or fuses removed.

One building reproduces the “tiger cages” in which the South Vietnamese government kept political prisoners. Other exhibits include graphic photography, accompanied by a short text in English, Vietnamese and Japanese, covering the effects of Agent Orange and other chemical defoliant sprays, the use of napalm and phosphorus bombs, and war atrocities such as the My Lai massacre. The photographic display includes work by Vietnam War photojournalist Bunyo Ishikawa that he donated to the museum in 1998. Curiosities include a guillotine used by the French and South Vietnamese to execute prisoners, the last time being in 1960, and three jars of preserved human fetuses allegedly deformed by exposure to dioxins and dioxin-like compounds, contained in the defoliant Agent Orange.

Reception

The War Remnants Museum is currently one of the most popular museums in Vietnam, attracting approximately half a million visitors every year. According to the museum’s own estimates, about two-thirds of these are foreigners. However, visitors’ opinions are mixed, ranging from favorable to “[the viewing of the exhibits] need to be taken with a grain of salt”,[2] with some going so far as to claim that Vietnamese regime has “borrowed images from the West and inserted them into a “distorted” history”, using images of the war to substantiate their version and views on Vietnam War history.[1]

Although the exhibits are “blatantly one-sided” with “many exhibits in the museum contain[ing] a heavy dose of anti-American propaganda” and need to be taken with a grain of salt, they do graphically portray the horrors of war. The War Remnants Museum is worth a visit no matter your opinion on U.S. involvement in Vietnam.”[2] Another states that the museum “is unlike any museum I have seen. Most museums I have visited around the world have done well to deal with sensitive issues while presenting facts and not taking sides. … At the War Remnants Museum however, it’s a no holds barred barrage of propaganda, overwrought with emotive language and typical propaganda buzzwords. The museum would have visitors believe without consideration, that the United States Government was evil; that American atrocities against civilians and Viet Cong soldiers were heinous and knew no bounds; and that the entire world, including the American people, were against the war. Conversely, the Viet Cong are supposed to have been kind to the soldiers they captured; they never wilfully harmed innocents; and all that the beloved leader Ho Chi Minh (or “Uncle Ho” as he is warmly referred to by the Government) wanted was peace.”.[3]

US anthropologist Christina Schwenkel wrote in a 2009 book that the exhibition is “full of propaganda”, and while the description “war crimes” has been dropped from the official text, the museum still exhibits pictures that are considered controversial [4] like that of a “smiling U.S. soldier proudly displaying a VC head as a war trophy” accompanied by a caption that is still hinting at a criminal element, in this case: “after decapitating some guerrillas, a GI enjoyed being photographed with their heads in his hands”.[1]

An analysis of the impression books (which the tourists may use to leave their comments in at the exit) revealed that the museum’s visitors used to be mostly Europeans and North Americans before 2005, but that its audience became much more varied after Vietnam dropped their visa requirement for ASEAN countries that year. The impression books also record mixed responses to the museum; some visitors noted down their own anti-American sentiments, especially after 2001. Others simply praised Vietnam, while some Europeans and Americans harshly criticized the museum for its “propaganda” and “glorification of [their] victory”.[1]

sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Ho_Chi_Minh

http://en.wikipedia.org/wiki/War_Remnants_Museum

Arsitek Terkenal Dunia

Berikut ini adalah beberapa arsitek yang sangat jenius di bidangnya, karya-karya mereka begitu abadi sebagai sebuah bangunan yang memiliki keunikan dan cirikhas tersendiri sehingga tidak ada duanya di dunia ini, siapa sajakah mereka.??
1. Frank Lloyd Wright
      Frank Lloyd Wright adalah nama yang sangat akrab di dunia ilmu arsitektur, karena beliau sudah menyumbangkan banyak pemikiran-pemikiran jeniusnya di dalam ilmu arsitektur dan sampai sekarang asih banyak dijadikan panutan dalam merancang obyek arsitektur.
Gambar
      Frank Lloyd Wright (8 Juni 1867 – 9 April 1959) adalah seorang arsitek terkenal dari awal tahun 1900-an. Rumahnya terkenal dengan julukanRobbie House, yang tata ruangnya seperti jaringan jalan yang ruwet dan jendela kaca bernoda geometris. Informasi rumah itu bisa didapatkan dalam buku The Wright 3 karya Blue Balliet. Frank Lloyd Wright memegang jimat khusus dalam bentuk ikan Jepang nefrit.
robie house
Robie HouseKarya : Frederick Robie House, the Avery dan Queene Coonley House, Falling Water
2. Le Corbusier
Gambar
      Charles-Edouard Jeanneret, yang dikenal dengan sebutan Le Corbusier (October 6, 1887 – August 27, 1965), adalah seorang arsitek dan penulis kelahiran Perancis-Swiss, yang sangat terkenal karena kontribusinya pada modernisme atau international-style.
Le Corbusier adalah seorang ahli dalam teori-teori desain modern dan beliau sangat berdedikasi dalam menghasilkan kehidupan yang lebih baik pada kota dan tempat tinggal yang cukup padat. Kariernya berjalan selama lima decade dengan begitu banyak bangunan yang telah dibangun tersebar di sepanjang Eropa, India, Rusia, dan dua di Amerika. Ia juga seorang perancang kawasan, pelukis, pematung, penulis, dan perancang modern furniture. Ia mengembangkan serangkaian gaya yang amat bersifat perorangan, mempengaruhi rancang bangunan di seluruh dunia, dan hingga saat ini masih merupakan arsitek terkenal dari Amerika Serikat.
notre dame church
Gereja Notre Dame
Karya : Chapelle Notre Dame du Haut, Villa Savoye
3. Zaha Hadid
      Arsitek Wanita Terkenal yang berani, julukan Zaha Hadid sebagai tonggak eksistensi desain-desain futuristik dan menggabungkannya dengan teknologi mambuat namanya akan terus dikenang di sepanjang masa di dunia arsitektur, latar belakangnya yang seorang ahli matematika membuat dia berani mebuat desain-desain ekstrim yang sampai saat ini kita sebut ” Arsitektur Dekonstruksi”.
Gambar
       Zaha Hadid lahir pada tahun 1950 di Baghdad, Irak. Dia telah menjadi salah satu arsitek paling terkenal dan paling berani di dunia. Bangunannya pernah  dinominasikan untuk Penghargaan bergengsi termasuk MAXXI (2010), Stasiun Kereta Api Kabel Nordpark (2008), Phaeno Science Centre (2006) dan BMW Central Building (2005).
gaya desain dari seorang Zaha Hadid bisa disebut desain yang berani, kontempror, organik, inovatif, menggunakan teknologi dengan material yang jauh dari kata ‘biasa’.
Bmw Central Building
BMW Central BuidingKarya : Zaragoza Bridge Pavilion, BMW Central Building, MAXXI (Museum Of XXI Century Arts)
4. Frank Owen Gehry
     Frank Owen Gehry, (nama lahir Ephraim Owen Goldberg di Toronto, Ontario pada 28 Februari 1929) adalah seorang arsitek berkewarganegaraan ganda Amerika Serikat dan Kanada. Pemenang Penghargaan Pritzker tahun 1989.
     Gehry dikenal akan pendekatan ukiran ke desain bangunan dan untuk membangun struktur yang berkurva, dan seringkali dibungkus dengan logam yang mengkilat. Gedung yang dirancangnya, termasuk tempat tinggal pribadinya di Santa Monica, California, telah menjadi atraksi wisatawan. Banyak museum, perusahaan, dan kota mencari jasa Gehry sebagai simbol pembedaan, untuk segala produk yang dibuatnya.

Pada tahun 1947, Frank pindah ke California, bekerja sebagai supir truk barang sambil kuliah di Los Angeles City College, dan akhirnya lulus dari Sekolah Arsitektur Universitas Southern Californi.

Setelah lulus pada tahun 1954, Frank tidak langsung bekerja di bidang arsitektur, melainkan bekerja di sejumlah tempat yang tidak ada kaitannya dengan arsitektur, termasuk menjadi anggota militer Amerika Serikat. Frank sempat belajar tata kota di Harvard Graduate School of Design, namun berhenti sebelum lulus. Setelah itu, Frank menikah dengan Anita Snyder, dan mengganti namanya dari Frank Goldberg menjadi Frank Gehry. Setelah bercerai dengan Snyder pada tahun 1960-an, Gehry menikah dengan Berta, istrinya yang sekarang. Dari perkawinan pertamanya, Gehry mendapat dua orang anak perempuan, sedangkan dua orang anak laki-laki didapatnya dari perkawinan kedua.

      Sebagai orang yang dibesarkan di Kanada, Gehry adalah penggemar berat olahraga hoki hingga sampai mendirikan liga hoki di kantornya. Piala Kejuaraan Dunia Hoki merupakan hasil desainnya pada tahun 2004.
museum guggenheim
Museum Guggenheim
Karya : Museum Guggenheim, Dancing House, Aula Konser Walt Disney
5. Mies Van Der Rohe
mies
       Nama Mies Van Der Rohe, bagi dunia arsitektur pasti sudah sangat populer. Namun, bagi masyarakat luas, mungkin jasa dan namanya belum dikenal luas.
Dia adalah seorang aristek yang mampu membawa angin baru dalam gaya bangunan. Mies dikenal dengan perintis arsitektur modern selepas Perang Dunia I. Pria berkewarganegaraan Jerman ini mampu menggebrak arsitektur bergaya klasik dan gothik yang sangat populer kala itu. Namun, dengan kehadiran karyanya mampu mengubah selera pasar dunia.
Seperti dikutip about.architekture.com, Selasa (27/3/2012), dia adalah arsitek yang mempopulerkan bangunan pencakar langit dengan lapisan kaca, meski dia bukan orang pertama yang melakukannya.
      Bersama temannya, Walter Gropius dan Le Corbusier mampu menciptakan gaya aristektur abad ke-20 yang kental dengan nuansa kesederhanaan yang ekstreem.
Karakter arsitektur buatan pria kelahiran 27 Maret 1886 ini, banyak memanfaatkan material modern seperti baja industri dan kaca pelat untuk menentukan ruang interior. Mies berupaya menciptakan arsitektur dengan sedikit kerangka struktur yang diseimbangkan dengan kebebasan ruang terbuka yang mengalir bebas.
      Pria yang mengganti kewarganegaraannya dari Jerman menjadi Amerika Serikat itu menyebut bangunan-bangunannya arsitektur “kulit dan tulang”. Mies mengambil pendekatan rasional yang dapat memandu proses kreatif perancangan arsitektur.
Setelah karyanya mendunia, lahirlah ragam asitek modern, seperti minimalis, internasional style dan strukturalism.
       Selain gedung, seperti disitat wikipedia.com. dia juga merancang furnitur modern dengan teknologi industri baru seperti kursi dan meja Barcelona, kursi Brno, dan kursi Tugendhat. Furniturnya dikenal karena harus dibuat dengan tingkat keahlian yang tinggi.
     Namun, pada 17 Agustus 1969, Mies menghembuskan napas terakhirnya. Setelah dikremasi, abunya dimakamkan dekat makam para arsitek Chicago terkenal di Graceland Cemetery, Chicago. Makamnya ditandai oleh ubin granit hitam dan pohon belalang madu besar.
      Selama 20 tahun terakhir hidupnya, dia mencoba untuk merefleksikan tujuannya untuk memberikan setiap orang tempat untuk menghabiskan hidupnya di zaman modern. Mies berusaha menciptakan ruang bebas dan terbuka yang terkurung oleh struktur minimalis.Profil Mies
Nama : Ludwig Mies van der Rohe
TTL : Aachen, Kerajaan Prusia, Kekaisaran Jerman, 27 Maret 1886
Wafat : Chicago, Illinois, USA, Agustus 1969 (pada usia 83 tahun)
Penghargaan :
– Order Pour le Mérite (1959)
– 2Royal Gold Medal (1959)
– AIA Gold Medal (1960)
– Presidential Medal of Freedom (1963)
farnsworth house
Farnsworth House
Karya Bangunan :
– Barcelona Pavilion
– Tugendhat House
– Crown Hall
– Farnsworth House
– 860-880 Lake Shore Drive Seagram Building
– New National Gallery
– Toronto-Dominion Centre
– Westmount Square. (rhs)

Sejarah Arsitektur Nusantara

A. Sejarah Nusantara

Rancangan Sejarah manapun tidak akan mencapai tujuannya jika tidak memperhatikan faktor geografis. Berdasarkan latar belakang historis bahwa tata ”Nusantara” adalah sebuah kata majemuk yang diambil dari bahasa Jawa kuno. Kata ini terdiri dari kata-kata nusa yang berarti ‘pulau’ dan antara berarti ‘lain’. Istilah ini digunakan dalam konsep kenegaraan “Jawa” artinya daerah di luar pengaruh budaya Jawa. Dalam penggunaan bahasa modern, istilah nusantara biasanya meliputi daerah kepulauan Asia Tenggara atau wilayah Austronesia. Sehingga pada masa sekarang ini banyak orang menggunakan istilah geografis ini untuk menunjukkan sebagai satu kesatuan pulau di Nusantara termasuk wilayah-wilayah di Semenanjung Malaya (Malaysia, Singapura) dan Filipina bahkan beberapa negara di wilayah Indochina seperti Kamboja akan tetapi tidak termasuk wilayah Papua. Di sisi lain, istilah geografis Nusantara saat ini sering diartikan sebagai Indonesia yang merupakan satu entitas politik. Fokus dari diskusi buku ajar ini adalah kepada istilah geografis Nusantara sebagai wilayah Indonesia pada masa sekarang ini.
A.1. Sejarah Singkat Nusantara
 
Wilayah Nusantara terletak pada persilangan jalan, antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, atau lebih khusus, Benua Asia dan Australia. Persilangan ini telah menjadikan wilayah Nusantara sebagai tempat persinggahan bagi pelayar dan pedagang terutama dari China ke India atau sebaliknya. Persinggahan para pelayar dan pedagang dari berbagai mancanegara telah  menjadikan Nusantara sebagai tempat kehadiran semua kebudayaan besar didunia. Bukti-bukti penemuan artefak-artefak seperti prasasti, uang logam dan gerabah memberikan informasi kehadiran bangsa-bangsa besar tersebut. Seperti prasasti berbahasa Tamil ditemukan di desa Lobu Tua pesisir Barat Sumatra (Barus)1, porselin dan gerabah Cina ditemukan di Palembang, nisan dan uang logam Arab ditemukan di Aceh. Dari penemuan-penemuan tersebut, para arkeolog dan sejarahwan menyusun kronologis sejarah Indonesia. Dapat dikatakan bahwa sekitar seribu tahun lamanya, dari abad ke-5 sampai ke-15, kebudayaan-kebudayaan India mempengaruhi Sumatra, Jawa dan Bali, dan Kalimantan bersamaan dengan dataran-dataran rendah yang luas di Semenanjung Indocina. Kebudayaan India ini awalnya pada penyebaran agama Hindu dan Buddha dan Islam di Indonesia. Di Jawa Tengah, candi Borobudur dan Prambanan adalah monumen yang sama nilainya dengan Angkor dan Pagan. Pada abad ke-7 hingga ke-14, kerajaan Budha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I Ching mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Pada abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana. Islam tiba di Indonesia sekitar abad ke-12, menggantikan Hindu sebagai kepercayaan utama pada akhir dekad ke-16 di Jawa dan Sumatra. Hanya Bali yang tetap mempertahankan mayoriti Hindu. Agama Islam ini dibawa oleh pedagang Arab dari Parsi dan Gujarat melalui pembauran. Kesultanan kecil Samudra Pasai disebelah utara Sumatra menjadi bandar yang ramai pada masa itu. Berdasarkan catatan Gastaldi (1548), seorang ahli kosmografi dan enjineer dari Italia, pelabuhan atau bandar kesultanan Samudra sebagai yang terbaik di pulau tersebut, dan melalui proses evolusi nama, istilah Sumatra dikenalkan pertama kali oleh orang Eropa Nicholò de’ Conti, sebelumnya Marcopolo menyebut dengan “Samara”, kemudian Friar dan Odoric menyebut dengan “Sumoltra”, Ibnu Battuta menyebut “Samudra”.  Melalui evolusi yang sama, nama Borneo pada mulanya adalah nama sebuah pelabuhan Brunei, yang pada masa itu merupakan nama kerajaan terpenting di Kalimantan Barat. Di kepulauan-kepulauan di timur, rohaniawan-rohaniawan Kristen dan Islam diketahui sudah aktif pada abad ke-16 dan 17, dan saat ini ada mayoritas yang besar dari kedua agama di kepulauan-kepulauan tersebut. Penyebaran Islam didorong hubungan perdagangan di luar Nusantara; umumnya pedagang dan ahli kerajaan lah yang pertama mengadopsi agama baru tersebut. Kerajaan penting termasuk Mataram di Jawa Tengah, dan Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore di Maluku di timur. Peradaban Eropa, hadir sejak abad ke-16, mula-mula dalam bentuk peradaban Iberia (Spanyol dan Portugis), kemudian Britania Raya, dan Belanda. Marcopolo menjadi orang Eropa pertama yang bercerita tentang perjalanannya ke bandar-bandar pantai utara “Samara” pada tahun 1291 Mulai tahun 1602 Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah Nusantara dengan memanfaatkan perpecahan di antara kerajaan-kerajaan kecil yang telah menggantikan Majapahit. Pada dekad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta. VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa itu dan bertempur dalam beberapa peperangan yang melibatkan pemimpin Mataram dan Banten. Setelah VOC jatuh bangkrut pada akhir dekad ke-18 dan setelah kekuasaan Britania yang pendek di bawah Thomas Stamford Raffles, pemerintah Belanda mengambil alih kepemilikan VOC pada tahun 1816. Pada 1901 pihak Belanda melancarkan Politik Etis (Ethische Politiek), yang termasuk investasi yang lebih besar dalam pendidikan bagi orang-orang pribumi, dan sedikit perubahan politik. Di bawah gubernur-jendral J.B. van Heutsz pemerintah Hindia-Belanda memperpanjang kekuasaan kolonial secara langsung di sepanjang Hindia-Belanda, dan dengan itu mendirikan fondasi bagi negara Indonesia saat ini. Pada saat ini, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan kota-kota dengan berbagai macam fasilitas seperti bangunan perkantoran, rumah sakit, bangunan ibadah (masjid dan gereja) dan lain sebagainya. Penetrasi Jepang di Asia Tenggara pada tahun 1941 disambut pada bulan yang sama dengan menerima bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Belanda. Pasukan Belanda terakhir dikalahkan Jepang pada Maret 1942.
 
A.2. Geografi dan Lingkungan
Nusantara beriklim tropis sesuai dengan letaknya yang melintang di sepanjang garis khatulistiwa. Dataran Indonesia kurang lebih 1.904.000 kilometer persegi terletak antara 60 garis lintang utara dan 110 garis lintang selatan serta 950 dan 1400 garis bujur timur. Dataran ini dibagi menjadi empat satuan geografis yaitu kepulauan Sunda Besar (Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi), Kepulauan Sunda Kecil (Lombok, Sumba, Sumbawa, Komodo, Flores, Alor, Savu, dan Lembata), Kepulauan Maluku (Halmahera, Ternate, Tidore, Seram dan Ambon), dan Irian Jaya beserta kepulauan Aru. Seluruh pulau di Indonesia termasuk dalam zona iklim khatulistiwa dengan suhu yang hampir konstan serta dipengaruhi oleh angin musim dan angin pasat. Secara geologis, Nusantara terdiri dari bentukan vulkanik dan nonvulkanik yang saling berjalin, sehingga Indonesia merupakan wilayah seismik paling aktif di dunia, tercatat kira-kira 500 gempa bumi setahun. Sejak akhir tahun 2004 hingga 2006 tercatat lebih dari 1000 kali gempa bumi. Selain gempa bumi, wilayah Nusantara juga merupakan wilayah yang rawan tsunami, berdasarkan katalog gempa (1629 – 2002) di Indonesia pernah terjadi Tsunami sebanyak 109 kali, terakhir kali bencana tsunami yang paling besar terjadi akhir 2004 melanda wilayah Naggroe Aceh Darussalam.
 
A.3. Keragaman Budaya
 
Indonesia memiliki 18,018 buah pulau yang tersebar di sekitar khatulistiwa mulai dari 60 garis lintang utara dan 110 garis lintang selatan serta 950 dan 1400 garis bujur timur. Diantara puluhan ribu pulau tersebut terdapat lima pulau besar, yaitu: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya, dengan pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, di mana lebih dari setengah (65%) populasi Indonesia hidup dipulau ini. Flora dan fauna Indonesia sangatlah beragam jenisnya. Setiap pulau memiliki kekhasan sendiri dan sering menjadi ikon dalam perkembangan wilayah atau daerah tersebut. Selain itu, Indonesia juga kaya dengan keberagaman etnis, terdapat kurang lebih 300 suku yang berbicara dalam 500 bahasa dan dialek.
Berdasarkan sosial linguistik, kebanyakan orang Indonesia berbahasa Austronesia yang kelompok wilayahnya persebarannya meliputi banyak pulau di Asia Tenggara, sebagian dari Vietnam Selatan, Taiwan Mikronesia, Polinesia dan Madagaskar sehingga
memiliki banyak kesamaan warisan budaya. Pengaruh budaya Austronesia pada budaya Indoenesia terlihat dalam budaya materi, organisasi sosial, kepercayaan, mitos, serta bahasa. Indonesia, selain kekayaan bahasa, masing-masing etnis memiliki keunikan adat istiadat dan budaya yang sering direfleksikan dalam keunikan arsitektur lokal atau vernakular. Apabila setiap etnik memiliki satu karakteristik arsitektur vernakular, maka terdapat kurang lebih 500 arsitektur vernakular di Indonesia yag merupakan kekayaan tiada tara bagi bangsa Indonesia.
 

B. Nusantara dan Jaringan Asia

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, wilayah Nusantara terletak pada persilangan jalan, antara samudera Hindia dan Samudera Pasifik, atau lebih khusus, Benua Asia dan Australia. Persilangan ini telah menjadikan wilayah Nusantara sebagai tempat persinggahan bagi pelayar dan pedagang terutama dari China ke India atau sebaliknya. Selain kedua bangsa Asia ini, terdapat juga pengaruh lain dari berbagai budaya hebat di dunia seperti peradaban Iberia (Spanyol dan Portugis), kemudian Britania Raya, dan Belanda. Dari luas dan letak wilayahnya, Indonesia dikategorikan sebagai negara besar yang cukup berpengaruh di Asia. Jaringan ini telah berlangsung beratus tahun lamanya, beberapa peninggalan budaya yang nampak atas pengaruh yang pernah singgah masih ada seperti misalnya kebudayaan India pengaruhnya mencakup terhadap penyebaran dan perkembangan Hindu Buddha dan Islam di Indonesia yang bisa diketahui dari tinggalan budayanya yaitu arsitektur candi dan arsitektur masjid bergaya Moghul di Indonesia. Sama halnya dengan India, pengaruh kebudayaan China hingga sekarang ini masih sangat besar dapat terlihat dalam berbagai sapek kehidupan; kepercayaan, bahasa, makanan, sistem pertanian dan lain sebagainya.
Kemajuan maritim di China pada masa Dinasti Ming telah membawa pelayar-pelayar tangguh mengarungi wilayah Nusantara. Perdagangan silang antara China dan India telah membuat Nusantara dan Asia Tenggara menjadi tempat persinggahan setiap kali berlayar. Pertukaran budaya terjadi dengan adanya interaksi perdagangan antara pedagang atau pelayar China dengan penduduk setempat yang disinggahi. Terdapat banyak tinggalan sejarah yang mendapat pengaruh peradaban Cina di Indonesia terutama pada klenteng dan bangunan pertokoan yang tersebar pada kota-kota lama di seluruh wilayah Indonesia. Budaya Jepang pertama kali masuk ke Nusantara pada sepertiga abad ke 20. Melalui propaganda militer ”saudara tua” Jepang dengan leluasa masuk ke wilayah Nusantara. Penetrasi politik Jepang selama 3,5 tahun tidak banyak meninggalkan monumen atau tinggalan bangunan bersejarah di Indonesia seperti halnya India dan Cina, akan tetapi kemiripan pada arsitektur vernakular yang sangat dipengaruhi oleh budaya Austronesia menjadi pembahasan yang menarik dalam buku ajar ini. Sebagai salah satu negara besar dengan konsep arsitektur timur yang kuat pernah menduduki Nusantara maka sangat penting untuk diketahui bagaimana sejarah perkembangan dan konsep arsitektur Jepang. Pembahasan buku ajar ini selain menjabarkan sejarah perkembangan arsitektur di Indonesia yang mendapatkan pengaruh dari peradaban Asia (India, Cina dan Jepang) di Indonesia juga membahas konsep dan perkembangan arsitektur di ketiga negara tersebut. Arsitektur Nusantara, dan Arsitektur Asia : India, Cina dan Jepang mewakili pemikiran tentang arsitektur timur.
C. Sejarah Perkembangan Arsitektur Indonesia
Perkembangan kebudayaan erat kaitannya dengan sejarah kebangsaan. Secara umum periodisasi sejarah budaya Indonesia dibagi atas tiga bagian besar yaitu Zaman Hindu-Budha, Zaman Islamisasi dan Zaman Modern, dengan proses oksidentalisasi. Sebenarnya terdapat satu zaman lagi sebelum zaman Hindu Buddha yaitu Zaman prasejarah akan tetapi pembahasan serta diskusi tentang zaman ini tidak banyak contoh yang tersisa dalam bidang arsitektur terutama pada masa prasejarah awal.1 Perkembangan arsitektur mulai dari masa Prasejarah Akhir yang ditandai dengan ditemukannya kubur batu di Pasemah, Gunung Kidul dan Bondowoso. Kemudian situs-situs megalitikum punden berundak di Leuwilang, Matesih, Pasirangin. Sebagaimana diketahui bahwa sejarah budaya yang melahirkan peninggalan budaya termasuk arsitektur sejalan dengan periodisasi tersebut diatas, maka dapat dikategorikan sebagai arsitektur percandian, arsitektur selama peradaban Islam (bisa termasuk arsitektur lokal atau tradisional, dan pra modern) dan arsitektur modern (termasuk arsitektur kolonial dan pasca kolonial). Keberadaan arsitektur lokal yang identik dengan bangunan panggung berstruktur kayu telah ada sebelum atau bersamaan dengan pembangunan candi-candi. Hal ini ditunjukkan dari berbagai keterangan pada relief candi-candi dimana terdapat informasi tentang arsitektur lokal/domestik atau tradisional atau vernakular nusantara. Akan tetapi jikalau menilik usia dari bangunan vernakular yang
ada di Indonesia, tidak ada yang lebih dari 150 tahun.
Pembahasan pada buku ajar ini tentang perkembangan arsitektur Indonesia dapat diurutkan sebagai berikut :
Arsitektur vernakular
Arsitektur klasik atau candi
Arsitektur pada masa perabadan atau kebudayaan Islam
Arsitektur Kolonial
Arsitektur Modern (pasca kemerdekaan)
sumber:

10 kota dengan Arsitektur Terbaik di Dunia

103009_0636_10BestArchi1

Berikut ini merupakan sepuluh kota dengan arsitektur terunik di dunia, diantaranya adalah Italia, Prancis, Jerman, Brazil, China, Yunani, Spanyol, Uni Emirat Arab, Italia dan Amerika Serikat. Kota Florence berarsitektur Renaissance abad pertengahan. Paris mungkin sudah tidak asing lagi terdengar ibarat sebuah museum raksasa..

1.Florence, Italia

Kota Florence berarsitektur Renaissance abad pertengahan. Hal yang harus anda ketahui dari kota ini adalah arsitektur mengagumkan dari Gereja-gereja yang berdiri megah. Salah satu yang tidak boleh terlewatkan dari kota ini adalah jembatan Ponte Vecchio yang masih original 100%.

103009_0636_10BestArchi1

2.Paris, Prancis

Paris mungkin sudah tidak asing lagi terdengar ibarat sebuah museum raksasa. Ya,disini terdapat menara Eiffel dan Moulin Rouge dan The Katedral Notre Dame, Louvre, Arc de Triomphe.

103009_0636_10BestArchi2

3. Berlin , Jerman
Rumah tua kota Berlin merupakan cara yang baik untuk memulai wisata. Tanpa mengesampingkan Sony Center, Reichstag museum Yahudi dan banyak lainnya. Sejak runtuhnya Tembok Berlin banyak terjadi perubahan arsitektur bangunannya.

103009_0636_10BestArchi3

4. Brasilia , Brazil
Kota ini ditata saling berbatasan seperti salib sehingga bila dilihat dari udara tampak seperti kupu-kupu raksasa. Kota ini dinyatakan sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO. Yang patut dilihat dari kota ini: Cathedral Basilica, Palacio de Alvarado, dan kompleks Kebudayaan Republik.

103009_0636_10BestArchi4

5. Shanghai , China
Anda akan menemukan beberapa karya seni modern terbesar di kota ini. Gedung tertinggi di Jin Mao Tower dapat dengan mudah terlihat. Oriental Pearl Tower tidak hanya memiliki desain bangunan yg mengagumkan, tetapi anda juga dapat berbelanja dan menginap.

103009_0636_10BestArchi5

6. Athens , Yunani
Anda dapat langsung mengunjungi, Acropolis, Parthenon, Akademi Athena dan di stadion Olimpiade Athena karena sangat tidak etis mengomentari tentang arsitektur yang mengagumkan dari kota ini.

7. Barcelona , Spanyol
Liburan mungkin terasa seru jika agan bisa mengunjungi: Park Guell, Palau de la musica Catalana, Hospital de Sant Pau, Candi Expiatori de la Sagrada Familia, dan Menara Komunikasi Montjuic.

103009_0636_10BestArchi6

7. Barcelona , Spanyol
Liburan mungkin terasa seru jika agan bisa mengunjungi: Park Guell, Palau de la musica Catalana, Hospital de Sant Pau, Candi Expiatori de la Sagrada Familia, dan Menara Komunikasi Montjuic.

103009_0636_10BestArchi7

8. Dubai, UEA
Tidak ada batasan di sini! Dubai benar-benar membangun apa pun yang tidak bisa dibayangkan di sana. Seluruh kota merupakan keajaiban arsitektur sehingga tidak perlu menyebutkan setiap bangunan pada khususnya. Sebelumnya daerah ini dahulunya hanyalah padang gersang yang terabaikan.

103009_0636_10BestArchi8

9. Roma , Italia
Anda mungkin tidak akan menemukan arsitektur modern di Roma, tapi anda bisa akan disuguhkan pemandangan Colosseum, Forum Romawi, Kapel Sistina, Pantheon dan Basilika St. Petrus di Vatikan.103009_0636_10BestArchi9

10. Cichago , USA

Kata pencakar langit ini diciptakan dalam arsitektur yang mungkin dibilang nyeleneh. Di sini terdapat Sears Tower, gedungtertinggi di Amerika Serikat.

103009_0636_10BestArchi10

sumber :

www.jelajahunik.blogspot.com

http://www.namagraph.com/article/arsitektur-a-peradaban/203-10-kota-dengan-arsitektur-terbaik-di-dunia

BAB VI. ENVIRONMENT (IMPACT ANALYSIS (AMDAL)

6.1 Pengertian AMDAL

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang sering disingkat AMDAL, merupakan reaksi terhadap kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia yang semakin meningkat. Reaksi ini mencapai keadaan ekstrem sampai menimbulkan sikap yang menentang pembangunan dan penggunaan teknologi tinggi. Dengan ini timbullah citra bahwa gerakan lingkungan adalah anti pembangunan dan anti teknologi tinggi serta menempatkan aktivis lingkungan sebagai lawan pelaksana dan perencana pembangunan.

Karena itu banyak pula yang mencurigai AMDAL sebagai suatu alat untuk menentang dan menghambat pembangunan.
Dengan diundangkannya undang-undang tentang lingkungan hidup di Amerika Serikat, yaituNational Environmental Policy Act (NEPA) pada tahun 1969. NEPA mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Dalam NEPA pasal 102 (2) (C) menyatakan,
“Semua usulan legilasi dan aktivitas pemerintah federal yang besar yang akan diperkirakan akan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan diharuskan disertai laporanEnvironmental Impact Assessment (Analsis Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut”.

AMDAL mulai berlaku di Indonesia tahun 1986 dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1086. Karena pelaksanaan PP No. 29 Tahun 1986 mengalami beberapa hambatan yang bersifat birokratis maupun metodologis, maka sejak tanggal 23 Oktober 1993 pemerintah mencabut PP No. 29 Tahun 1986 dan menggantikannya dengan PP No. 51 Tahun 1993 tentang AMDAL dalam rangka efektivitas dan efisiensi pelaksanaan AMDAL. Dengan diterbitkannya Undang-undang No. 23 Tahun 1997, maka PP No. 51 Tahun 1993 perlu disesuaikan. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1999, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999. Melalui PP No. 27 Tahun 1999 ini diharapkan pengelolaan lingkungan hidup dapat lebih optimal.

Pembangunan yang tidak mengorbankan lingkungan dan/atau merusak lingkungan hidup adalah pembangunan yang memperhatikan dampak yang dapat diakibatkan oleh beroperasinya pembangunan tersebut. Untuk menjamin bahwa suatu pembangunan dapat beroperasi atau layak dari segi lingkungan, perlu dilakukan analisis atau studi kelayakan pembangunan tentang dampak dan akibat yang akan muncul bila suatu rencana kegiatan/usaha akan dilakukan.

AMDAL adalah singkatan dari analisis mengenai dampak lingkungan. Dalam peraturan pemerintah no. 27 tahun 1999 tentang analisis mengenai dampak lingkungan disebutkan bahwa AMDAL merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup antara lain:
a.       jumlah manusia yang terkena dampak
b.      luas wilayah persebaran dampak
c.       intensitas dan lamanya dampak berlangsung
d.      banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak
e.       sifat kumulatif dampak
f.       berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak

6.2 Parameter AMDAL 

Seperti diketahui bahwa lingkungan merupakan suatu sistem dimana terdapat interaksi antara berbagai macam parameter lingkungan didalamnya.  Misalnya suatu penentuan lahan (zoning) untuk pembangunan perumahan dapat menyebabkan erosi tanah ditempat lain karena adanya dislokasi bebatuan atau dapat menyebabkan hilangnya tingkat kesuburan tanah akibat terkikisnya lapisan atas lahan tersebut.
Parameter atau atribut lingkungan dapat dikategorikan menjadi tiga jenis :

-Parameter terperinci yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan keadaan lingkungan di mana setiap perubahan dari parameter ini akan merupakan indikator dari perubahan-perubahan dalam lingkungan yang bersangkutan.

-Parameter umum yaitu suatu tinjauan singkat atas parameter lingkungan yang secara umum dapat menggambarkan sifat dari dampak-dampak yang potensial terhadap lingkungan.

-Parameter controversial yaitu parameter lingkungan yang karena usaha-usaha pembangunan fisik mendapat dampak lingkungan tertentu atas dampak yang terjadi ini kemudian timbul suatu reaksi yang bertentangan dari masyarakat umum.

Parameter lingkungan yang harus dianalisis pada operasi AMDAL, meliputi :

A. Dampak lingkungan langsung :

Faktor fisis biologis :

  • Udara
  • Air
  • Lahan
  • Aspek ekologi hewan dan tumbuhan
  • Suara
  • SDA termasuk kebutuhan energi

Faktor Sosial Budaya

  • Taat cara hidup
  • pola kebutuhan psikologis
  • sistem psikologis
  • kebutuhan lingkungan sosial
  • pola sosial budaya

Faktor Ekonomi

  • Ekonomi regional dan ekonomi perkotaan
  • Pendapatan dan pengeluaran sector public
  • Konsumsi dan pendapatan perkapita

B. Dampak lingkungan langsung :

– Perluasan pemanfaatan lahan
– Pengembangan kawasan terbangun
– Perubahan gaya hidup karena meningkatnya daya mobilitas masyarakat dll.
Berdasarkan penjabaran diatas maka dapat dikemukakan bahwa “Analisis Dampak Lingkungan” adalah suatu studi tentang kemungkinan perubahan-perubahan yang terjadi dalam berbagai karakteristik sosial ekonomi dan biologis dari suaut lingkungan yang mungkin disebabkan oleh suatu tindakan yang direncanakan maupun tindakan pembangunan yang telah dilaksanakan dan merupakan ancaman terhadap lingkungan.

Dokumen AMDAL terdiri dari :

  • Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-AMDAL)
  • Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL)
  • Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)
  • Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

AMDAL digunakan untuk:

  • Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah
  • Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan
  • Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan
  • Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
  • Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan atau kegiatan

Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah:

Komisi Penilai AMDAL, komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL

  • Pemrakarsa, orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan, dan
  • masyarakat yang berkepentingan, masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL.

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

  1. Penentuan kriteria wajib AMDAL, saat ini, Indonesia menggunakan/menerapkan penapisan 1 langkah dengan menggunakan daftar kegiatan wajib AMDAL (one step scoping by pre request list). Daftar kegiatan wajib AMDAL dapat dilihat di Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2012
  2. Apabila kegiatan tidak tercantum dalam peraturan tersebut, maka wajib menyusun UKL-UPL, sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2010
  3. Penyusunan AMDAL menggunakan Pedoman Penyusunan AMDAL sesuai dengan Permen LH NO. 08/2006
  4. Kewenangan Penilaian didasarkan oleh Permen LH no. 05/2008

6.3 Inti AMDAL 

Tiga nilai-nilai inti AMDAL :

  • integritas-dalam proses AMDAL akan sesuai dengan standar yang disepakati.
  • utilitas – dalam proses AMDAL akan menyediakan seimbang, kredibel informasi untuk keputusan.
  • kesinambungan – dalam proses AMDAL akan menghasilkan perlindungan lingkungan.

Manfaat AMDAL meliputi:.

  • berwawasan lingkungan dan berkelanjutan desain.
  • kepatuhan dengan standar yang lebih baik.
  • tabungan modal dan biaya operasi.
  • mengurangi waktu dan biaya untuk persetujuan.
  • proyek peningkatan penerimaan.
  • perlindungan yang lebih baik terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

Apa maksud dan tujuan dari AMDAL?

Maksud dan tujuan dari AMDAL dapat dibagi menjadi dua kategori. Itu tujuan langsung AMDAL adalah untuk memberi proses pengambilan keputusan oleh berpotensi signifikan mengidentifikasi dampak lingkungan dan risiko proposal pembangunan. Tertinggi (jangka panjang) Tujuan AMDAL adalah untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan dengan memastikan bahwa usulan pembangunan tidak merusak sumber daya kritis dan fungsi ekologis atau kesejahteraan, gaya hidup dan penghidupan masyarakat dan bangsa yang bergantung pada mereka.

Tujuan langsung AMDAL adalah untuk:

  • memperbaiki desain lingkungan proposal;
  • memastikan bahwa sumber daya tersebut digunakan dengan tepat dan efisien;
  • mengidentifikasi langkah-langkah yang tepat untuk mengurangi potensi dampak proposal; dan
  • informasi memfasilitasi pengambilan keputusan, termasuk pengaturan lingkungan syarat dan ketentuan untuk menerapkan usulan tersebut.

Tujuan jangka panjang AMDAL adalah untuk:

  • melindungi kesehatan dan keselamatan manusia;
  • menghindari perubahan ireversibel dan kerusakan serius terhadap lingkungan;
  • menjaga sumber daya berharga, daerah alam dan komponen ekosistem; dan
  • meningkatkan aspek-aspek sosial dari proposal.

6.4 Proses AMDAL dalam Hukum Pranata Pembangunan

AMDAL adalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, merupakan reaksi terhadap kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia yang semakin meningkat. Reaksi ini mencapai keadaan ekstrem sampai menimbulkan sikap yang menentang pembangunan dan penggunaan teknologi tinggi.

Dengan ini timbullah citra bahwa gerakan lingkungan adalah anti pembangunan dan anti teknologi tinggi serta menempatkan aktivis lingkungan sebagai lawan pelaksana dan perencana pembangunan. Karena itu banyak pula yang mencurigai AMDAL sebagai suatu alat untuk menentang dan menghambat pembangunan.
AMDAL mulai berlaku di Indonesia tahun 1986 dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1086. Karena pelaksanaan PP No. 29 Tahun 1986 mengalami beberapa hambatan yang bersifat birokratis maupun metodologis, maka sejak tanggal 23 Oktober 1993 pemerintah mencabut PP No. 29 Tahun 1986 dan menggantikannya dengan PP No. 51 Tahun 1993 tentang AMDAL dalam rangka efektivitas dan efisiensi pelaksanaan AMDAL.
Dengan diterbitkannya Undang-undang No. 23 Tahun 1997, maka PP No. 51 Tahun 1993 perlu disesuaikan. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1999, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999. Melalui PP No. 27 Tahun 1999 ini diharapkan pengelolaan lingkungan hidup dapat lebih optimal.
AMDAL merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup antara lain:
  • jumlah manusia yang terkena dampak
  • luas wilayah persebaran dampak
  • intensitas dan lamanya dampak berlangsung
  • banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak
  • sifat kumulatif dampak
  • berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak
DOKUMEN AMDAL
Dokumen AMDAL merupakan sumber informasi bagi masyarakat luas. Dokumen AMDAL terdiri atas lima dokumen penting, yaitu
  1. Kerangka Acuan (KA)
  2. Sebagai dasar pelaksanaan studi AMDAL.
  3. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)
  4. Sebagai dokumen yang memuat studi dampak lingkungan.
  5. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
  6. Merupakan upaya-upaya pengelolaan lingkungan untuk mengurangi dampak negatif dan meningkatkan dampak positif, misalnya pengelolaan sampah.
  7. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)
  8. Upaya pemantauan untuk melihat kinerja upaya pengelolaan.
  9. Executive Summary
  10. Memuat ringkasan dokumen ANDAL, RKL, dan RPL
Hal yang harus diperhatikan adalah
  1. Kewenangan Penilaian didasarkan oleh Permen LH no. 05/2008
  2. Penentuan kriteria wajib AMDAL, saat ini, Indonesia menggunakan/menerapkan penapisan 1 langkah dengan menggunakan daftar kegiatan wajib AMDAL (one step scoping by pre request list). Daftar kegiatan wajib AMDAL dapat dilihat di Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006
  3. Apabila kegiatan tidak tercantum dalam peraturan tersebut, maka wajib menyusun UKL-UPL, sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 Tahun 2002
  4. Penyusunan AMDAL menggunakan Pedoman Penyusunan AMDAL sesuai dengan Permen LH NO. 08/2006
PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT DALAM PROSES AMDAL
  1. Komisi Penilai AMDAL, komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL
  2. Pemrakarsa, orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan, dan
  3. masyarakat yang berkepentingan, masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL.
Suatu rencana kegiatan dapat dinyatakan tidak layak lingkungan, jika berdasarkan hasil kajian AMDAL, dampak negatif yang timbulkannya tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. Demikian juga, jika biaya yang diperlukan untuk menanggulangi dampak negatif lebih besar daripada manfaat dari dampak positif yang akan ditimbulkan, maka rencana kegiatan tersebut dinyatakan tidak layak lingkungan. Suatu rencana kegiatan yang diputuskan tidak layak lingkungan tidak dapat dilanjutkan pembangunannya.
6.5 RESUME BAB VI
Banyak sekali kerusakan pada lingkungan terjadi yang diakibatkan oleh pembangunan. Dalam hal ini AMDAL sangat berperan penting karena AMDAL merupakan reaksi terhadap kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia yang semakin meningkat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Arsitektur tidak terlepas dan selalu berkaitan dengan AMDAL, karena seorang arsitek dalam melakukan setiap pembangunan harus memperhatikan lingkungan, menjaga kelestarian lingkungan sehingga apapun yang terjadi kelestarian lingkungan harus diutamakan. Maka dari itu pembangunan akan berjalan dengan baik apabila kita menggunakan AMDAL.
Sumber :

BAB V. PERENCANAAN FISIK PEMBANGUNAN

5.1 PENGERTIAN

Perencanaan fisik pembangunan pada hakikatnya dapat diartikan sebagai suatu usaha pengaturan dan penataan kebutuhan fisik untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dengan berbagai kegiatan fisiknya.

5.2 SKEMA PERENCANAAN

-Kepala Bidang Fisik dan Prasarana

Mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Kepala Badan lingkup Fisik dan Prasarana, dalam melaksanakan tugasnya juga menyelenggarakan fungsi :
a. Penyusunan kebijakan tehnis, program dan kegiatan perencanaan pembangunan tahunan bidang Fisik dan Prasarana lingkup prasarana wilayah dan Tata Ruang serta Sumber Daya Alam
b. Pengoordinasian penyusunan perencanaan pembangunan bidang Fisik dan Prasarana lingkup prasarna wilayah dan Tata Ruang serta SDA
c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas perencanaan perencanaan pembangunan bidang Fisik dan Prasarana lingkup prasarna wilayah dan Tata Ruang serta Sumber Daya Alam.
d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan lingkup tugasnya

-Kepala Sub-Bidang Prasarana Wilayah

Mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Kabid Fisik dan Prasarana dilingkup Prasarana Wilayah, dalam melaksanakan tugasnya, juga menyelenggarakan fungsi :
a. Penyiapan dan penyusunan bahan kebijakan tehnis perencanaan pembangunan pada Sub Bidang Prasarana Wilayah dilingkup PU, Perhubungan, Komunikasi dan Informatika
b. Penyusunan anggaran pada Sub Bidang Prasarana Wilayah dan pengkoordinasian penyusunan anggaran lingkup PU, Perhubungan, Komunikasi dan Informatika
c. Penyiapan dan penyusunan dan pelaksanaan program dan kegiatan perencanaan pembangunan lingkup sub Bidang Prasarana Wilayah
d. Pengendalian pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan perencanaan pembangunan lingkup sub Bidang Prasarana Wilayah
e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan lingkup tugasnya

-Kepala Sub-Bidang Tata Ruang dan Sumber Daya Alam

Mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Kabid Fisik dan Prasarana dilingkup Tata Ruang dan Sumber Daya Alam, dalam melaksanakan tugasnya juga menyelenggarakan fungsi :
a. Penyiapan dan penyusunan bahan kebijakan tehnis perencanaan pembangunan pada Sub Bidang Tata Ruang dan Sumber Daya Alam, lingkungan hidup
b. Penyiapan dan penyusunan dan pelaksanaan program dan kegiatan perencanaan pembangunan lingkup sub Tata Ruang dan Sumber Daya Alam, lingkungan hidup
c. Pengendalian pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan perencanaan pembangunan lingkup sub Bidang Tata Ruang dan Sumber Daya Alam, lingkungan hidup
d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan lingkup tugasnya

5.3 DISTRIBUSI TATA RUANG LINGKUP : NASIONAL, REGIONAL, LOKAL, LINGKUNGAN SWASTA

1. Nasional
Yang dibicarakan dalam lingkup nasional ini hanyalah, misalnya daerah atau kota yang memenuhi kriteria yang ditetapkan dan studi kelayakan dalam skala yang luas. Jadi pemeilihan dan penentuan daerah untuk pembangunan perumahan tadi secara spesifik menjadi wewenang lagi dari pemerintaan tingkat lokal.
Meskipun rencana pembangunan nasional tidak dapat secara langsung menjabarkan perencanan fisik dalam tingkat lokal tetapi sering kali bahwa program pembangunan tingkat nasional sangat mempengaruhi program pembangunan yang disusun oleh tingkat lokal. Sebagai contoh, ketidaksingkronan program pendanaan antara APBD dan APBN, yang sering mengakibatkan kepincangan pelaksanaan suatu program pembangunan fisik, misalnya; bongkar pasang untuk rehabilitasi jaringan utilitas kota.

2. Regional
Instansi yang berwenang dalam perencanaan pembangunan pada tingkatan regional di Indonesia adalah Pemda Tingkat I, disamping adanya dinas-dinas daerah maupun vertikal (kantor wilayah). Contoh; Dinas PU Propinsi, DLLAJR, Kanwil-kanwil. Sedang badan yang mengkoordinasikannya adalah Bappeda Tk. I di setiap provInsi.
Walaupun perencanaan ditingkat kota dan kabupaten konsisten sejalan dengan ketentuan rencana pembangunan yang telah digariskan diatas (tingkat nasional dan regional) daerah tingkat II itu sendiri masih mempunyai kewenangan mengurus perencanaan wilayahnya sendiri

3. Lokal
Penanganan perencanaan pembangunan ditingkat local seperti Kodya atau kabupaten ini biasanya dibebankan pada dinas-dinas, contoh: Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Tata Kota, Dinas Kebersihan, Dinas Pengawasan Pembangunan Kota, Dinas Kesehatan, Dinas PDAM. Koordinasi perencanaan berdasarkan Kepres No.27 tahun 1980 dilakukan oleh BAPPEDA Tk.II.
Saat ini perlu diakui bahwa sering terjadi kesulitan koordinasi perencanaan. Masalah ini semakin dirasakan apabila menyangkut dinas-dinas eksekutif daerah dengan dinas-dinas vertikal.
Di Amerika dan Eropa sejak 20 tahun terakhir telah mengembangkan badan-badan khusus darai pemerintah kota untuk menangani program mota tertentu, seperti program peremajaan kota (urban renewal programmes). Badan otorita ini diberi wewenang khusus untuk menangani pengaturan kembali perencanaan fisik terperinci bagian-bagian kota.

4. Sektor Swasta
Lingkup kegiatan perencanaan oleh swasta di Indonesia semula memang hanya terbatas pada skalanya seperti pada perencanaan perumahan, jaringan utilitas, pusat perbelanjaan dll.
Dewasa ini lingkup skalanya sudah luas dan hampir tidak terbatas. Badan-badan usaha konsultan swasta yang menjamur adalah indikasi keterlibatan swasta yang makin meluas. Semakin luasnya lingkup swasta didasari pada berkembangnya tuntutan layanan yang semakin luas dan profesionalisme. Kewenangan pihak swasta yang semakin positif menjadi indikator untuk memicu diri bagi Instansi pemerinta maupun BUMN. Persaingan yang muncul menjadi tolok ukur bagi tiap-tiap kompetitor (swasta dan pemerintah) dan berdampak pada peningkatan kualitas layanan/produk.
Pihak swasta terkecil adalah individu atau perorangan. Peran individu juga sangat berpengaruh terhadap pola perencanaan pembangunan secara keseluruhan. Contoh apabila seseorang membuat rumah maka ia selayaknya membuat perencanaan fisik rumahnya dengan memenuhi peraturan yang berlaku. Taat pada peraturan bangunan, aturan zoning, perizinan (IMB) dan sebaginya. Kepentingannya dalam membangun harus singkron dengan kepentingan lingkungan disekitarnya, tataran lokal hingga pada tataran yang lebih luas.

5.4 SISTEM WILAYAH PEMBANGUNAN

Pengertian wilayah dipahami sebagai ruang permukaan bumi dimana manusia dan makhluk lainnya dapat hidup dan beraktifitas. Sementara itu wilayah menurut Hanafiah (1982) adalah unit tata ruang yang terdiri atas jarak, lokasi, bentuk dan ukuran atau skala. Dengan demikian sebagai satu unit tata ruang yang dimanfaatkan manusia, maka penataan dan penggunaan wilayah dapat terpelihara. Sedangkan Hadjisaroso (1994) menyatakan bahwa wilayah adalah sebutan untuk lingkungan pada umumnya dan tertentu batasnya. Misalnya nasional adalah sebutan untuk wilayah dalam kekuasaan Negara, dan daerah adalah sebutan untuk batas wilayah dalam batas kewenangan daerah. Selanjutnya menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, wilayah diartikan sebagai kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional.
Struktur perencanaan pembangunan nasional saat ini mengacu pada Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional. UU tersebut mengamanahkan bahwa kepala daerah terpilih diharuskan menyusun rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) dan rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) di daerah masing-masing. Dokumen RPJM ini akan menjadi acuan pembangunan daerah yang memuat, antara lain visi, misi, arah kebijakan, dan program-program pembangunan selama lima tahun ke depan. Sementara itu juga, dengan dikeluarkan UU No.17 Tahun 2007 tentang RPJPN 2005-2025, maka ke dalam – dan menjadi bagian – dari kerangka perencanaan pembangunan tersebut di semua tingkatan pemerintahan perlu mengintegrasikan aspek wilayah/spasial. Dengan demikian 33 provinsi dan 496 kabupaten/kota yang ada di Indonesia harus mengintegrasikan rencana tata ruangnya ke dalam perencanaan pembangunan daerahnya masing-masing). Seluruh kegiatan pembangunan harus direncanakan berdasarkan data (spasial dan nonspasial) dan informasi yang akurat serta dapat dipertanggungjawabkan.
Sesungguhnya landasan hukum kebijakan pembangunan wilayah di Indonesia terkait dengan penyusunan tata ruang di Indonesia secara umum mengacu pada UU tentang Penataan Ruang. Pedoman ini sebagai landasan hukum yang berisi kewajiban setiap provinsi, kabupaten dan kota menyusun tata ruang wilayah sebagai arahan pelaksanaan pembangunan daerah. Rencana tata ruang dirumuskan secara berjenjang mulai dari tingkat yang sangat umum sampai tingkat yang sangat perinci seperti dicerminkan dari tata ruang tingkat provinsi, kabupaten, perkotaan, desa, dan bahkan untuk tata ruang yang bersifat tematis, misalnya untuk kawasan pesisir, pulau-pulau kecil, jaringan jalan, dan lain sebagainya. Kewajiban daerah menyusun tata ruang berkaitan dengan penerapan desentralisasi dan otonomi daerah. Menindaklanjuti undang- undang tersebut, Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 327/KPTS/M/2002 menetapkan enam pedoman bidang penataan ruang, meliputi:
1. Pedoman penyusunan RTRW provinsi.
2. Pedoman penyusunan kembali RTRW provinsi.
3. Pedoman penyusunan RTRW kabupaten.
4. Pedoman penyusunan kembali RTRW kabupaten.
5. Pedoman penyusunan RTRW perkotaan.
6. Pedoman penyusunan kembali RTRW perkotaan.
Mengingat rencana tata ruang merupakan salah satu aspek dalam rencana pembangunan nasional dan pembangunan daerah, tata ruang nasional, provinsi dan kabupaten/kota merupakan satu kesatuan yang saling terkait dan dari aspek substansi dan operasional harus konsistensi. Adanya peraturan perundang-undangan penyusunan tata ruang yang bersifat nasional, seperti UU No. 25 Tahun 2004 dan Kepmen Kimpraswil Nomor 327/KPTS/M/2002 tersebut, kiranya dapat digunakan pula sebagai dasar dalam melaksanakan pemetaan mintakat ruang sesuai dengan asas optimal dan lestari.
Dengan demikian, terkait kondisi tersebut, dokumen rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang ada juga harus mengacu pada visi dan misi tersebut. Dengan kata lain, RTRW yang ada merupakan bagian terjemahan visi, misi daerah yang dipresentasikan dalam bentuk pola dan struktur pemanfaatan ruang. Secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. RTRW nasional merupakan strategi dan arahan kebijakan pemanfaatan ruang wilayah negara yang meliputi tujuan nasional dan arahan pemanfaatan ruang antarpulau dan antarprovinsi. RTRW nasional yang disusun pada tingkat ketelitian skala 1:1 juta untuk jangka waktu selama 25 tahun.

2. RTRW provinsi merupakan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan runag wilayah provinsi yang berfokus pada keterkaitan antarkawasan/kabupaten/kota. RTRW provinsi disusun pada tingkat ketelitian skala 1:250 ribu untuk jangka waktu 15 tahun. Berdasar pada landasan hukum dan pedoman umum penyusunan tata ruang, substansi data dan analisis penyusunan RTRW provinsi mencakup kebijakan pembangunan, analisis regional, ekonomi regional, sumber daya manusia, sumber daya buatan, sumber daya alam, sistem permukiman, penggunaan lahan, dan analisis kelembagaan. Substansi RTRW provinsi meliputi: Arahan struktur dan pola pemanfaatan ruang; arahan pengelolaan kawasan lindung dan budi daya; arahan pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dan tematik; arahan pengembangan kawasan permukiman, kehutanan, pertanian, pertambangan, perindustrian, pariwisata, dan kawasan lainnya; arahan pengembangan sistem pusat permukiman perdesaan dan perkotaan; arahan pengembangan sistem prasarana wilayah; arahan pengembangan kawasan yang diprioritaskan; arahan kebijakan tata guna tanah, air, udara, dan sumber daya alam lain.

3. RTRW kabupaten/Kota merupakan rencana tata ruang yang disusun berdasar pada perkiraan kecenderuangan dan arahan perkembangan untuk pembangunan daerah di masa depan. RTRW kabupaten/kota disusun pada tingkat ketelitian 1:100 ribu untuk kabupaten dan 1:25 ribu untuk daerah perkotaan, untuk jangka waktu 5–10 tahun sesuai dengan perkembangan daerah.

5.5 PERANANNYA DALAM LINGKUP : NASIONAL, REGIONAL, LOKAL, SEKTOR SWASTA

Peran Perencanaan dalam 4 lingkup :
1. Lingkup Nasional
2. Lingkup Regional
3. Lingkup Lokal
4. Lingkup Sektor Swasta

LINGKUP NASIONAL

Kewenangan semua instansi di tingkat pemerintah pusat berada dalam lingkup kepentingan secara sektoral. Departemen-departemen yang berkaitan langsung dengan perencanaan fisik khususnya terkait dengan pengembangan wilayah antara lain adalah :
– Dept. Pekerjaan Umum
– Dept. Perhubungan
– Dept. Perindustrian
– Dept. Pertanian
– Dept. Pertambangan Energi
– Dept. Nakertrans.

Dalam hubungan ini peranan Bappenas dengan sendirinya juga sangat penting.
Perencanaan fisik pada tingkat nasional umumnya tidak mempertimbangkan distribusi kegiatan tata ruang secara spesifik dan mendetail. Tetapi terbatas pada penggarisan kebijaksanaan umum dan kriteria administrasi pelaksanaannya. Misalnya:
Suatu program subsidi untuk pembangunan perumahan atau program perbaikan kampung pada tingkat nasional tidak akan dibahas secara terperinci dan tidak membahas dampak spesifik program ini pada suatu daerah. Yang dibicarakan dalam lingkup nasional ini hanyalah, daerah atau kota yang memenuhi kriteria yang ditetapkan dan studi kelayakan dalam skala yang luas. Jadi pemilihan dan penentuan daerah untuk pembangunan perumahan tadi secara spesifik menjadi wewenang lagi dari pemerintaan tingkat lokal. Meskipun rencana pembangunan nasional tidak dapat secara langsung menjabarkan perencanan fisik dalam tingkat lokal tetapi sering kali bahwa program pembangunan tingkat nasional sangat mempengaruhi program pembangunan yang disusun oleh tingkat lokal.
Sebagai contoh, ketidaksingkronan program pendanaan antara APBD dan APBN, yang sering mengakibatkan kepincangan pelaksanaan suatu program pembangunan fisik, misalnya; bongkar pasang untuk rehabilitasi jaringan utilitas kota.

LINGKUP REGIONAL

Instansi yang berwenang dalam perencanaan pembangunan pada tingkatan regional di Indonesia adalah Pemda Tingkat I, disamping adanya dinas-dinas daerah maupun vertikal (kantor wilayah).
Contoh; Dinas PU Propinsi, DLLAJR, Kanwil-kanwil. Sedang badan yang mengkoordinasikannya adalah Bappeda Tk. I di setiap provinsi.
Walaupun perencanaan ditingkat kota dan kabupaten konsisten sejalan dengan ketentuan rencana pembangunan yang telah digariskan diatas (tingkat nasional dan regional) daerah tingkat II itu sendiri masih mempunyai kewenangan mengurus perencanaan wilayahnya sendiri
Yang penting dalam hal ini pengertian timbal balik, koordinatif.
Contoh, misalnya ada perencanaan fisik pembangunan pendidikan tinggi di suatu kota, untuk hal ini, selain dilandasi oleh kepentingan pendidikan pada tingkat nasional juga perlu dipikirkan implikasi serta dampaknya terhadap perkembangan daerah tingkat II dimana perguruan tinggi tersebut dialokasikan.
Masalah yang sering mennyulitkan adalah koordinasi pembangunan fisik apabila berbatasan dengan kota atau wilayah lain.
Ada instansi khusus lainnya yang cukup berperan dalam perencanaan tingkat regional misalnya otorita atau proyek khusus.
Contoh otorita Batam, Otorita proyek jatiluhur, DAS.

LINGKUP LOKAL

Penanganan perencanaan pembangunan ditingkat local seperti Kodya atau kabupaten ini biasanya dibebankan pada dinas-dinas,
contoh: Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Tata Kota, Dinas Kebersihan, Dinas Pengawasan Pembangunan Kota, Dinas Kesehatan, Dinas PDAM.
Koordinasi perencanaan berdasarkan Kepres No.27 tahun 1980 dilakukan oleh BAPPEDA Tk.II.
Saat ini perlu diakui bahwa sering terjadi kesulitan koordinasi perencanaan. Masalah ini semakin dirasakan apabila menyangkut dinas-dinas eksekutif daerah dengan dinas-dinas vertikal.
Di Amerika dan Eropa sejak 20 tahun terakhir telah mengembangkan badan-badan khusus darai pemerintah kota untuk menangani program mota tertentu, seperti program peremajaan kota (urban renewal programmes).
Badan otorita ini diberi wewenang khusus untuk menangani pengaturan kembali perencanaan fisik terperinci bagian-bagian kota.

LINGKUP SWASTA

Lingkup kegiatan perencanaan oleh swasta di Indonesia semula memang hanya terbatas pada skalanya seperti pada perencanaan perumahan, jaringan utiliyas, pusat perbelanjaan dll. Dewasa ini lingkup skalanya sudah luas dan hampir tidak terbatas.
Badan-badan usaha konsultan swasta yang menjamur adalah indikasi keterlibatan swasta yang makin meluas. Semakin luasnya lingkup swasta didasari pada berkembangnya tuntutan layanan yang semakin luas dan profesionalisme.
Kewenangan pihak swasta yang semakin positif menjadi indikator untuk memicu diri bagi Instansi pemerinta maupun BUMN. Persaingan yang muncul menjadi tolok ukur bagi tiap-tiap kompetitor (swasta dan pemerintah) dan berdampak pada peningkatan kualitas layanan/produk.
Pihak swasta terkecil adalah individu atau perorangan. Peran individu juga sangat berpengaruh terhadap pola perencanaan pembangunan secara keseluruhan.
Contoh apabila seseorang membuat rumah maka ia selayaknya membuat perencanaan fisik rumahnya dengan memenuhi peraturan yang berlaku.
Taat pada peraturan bangunan, aturan zoning, perizinan (IMB) dan sebaginya.
Kepentingannya dalam membangun harus singkron dengan kepentingan lingkungan disekitarnya, tataran lokal hingga pada tataran yang lebih luas.

5.6. RESUME BAB V

            Perencanaan fisik pembangunan ditujukan untuk mengatur dan menata kebutuhan fisik dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia.Di dalam perencanaan fisik pembangunan terdapat beberapa skema perancangan yaitu Kepala Bidang Fisik dan Prasarana, Kepala Sub-Bidang Prasarana Wilayah dan Kepala Sub-Bidang Tata Ruang dan Sumber Daya Alam. Setiap kepal bidang memiliki tugas yang berbeda.
            Dalam distribusi tata ruang lingkungan terdapat beberapa lingkup yaitu Nasional, Regional, Lokal dan Sektor Swasta. Untuk menjalankan sistem wilayah pembangunan,  Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 327/KPTS/M/2002 menetapkan enam pedoman bidang penataan ruang, meliputi:
1. Pedoman penyusunan RTRW provinsi.
2. Pedoman penyusunan kembali RTRW provinsi.
3. Pedoman penyusunan RTRW kabupaten.
4. Pedoman penyusunan kembali RTRW kabupaten.
5. Pedoman penyusunan RTRW perkotaan.
6. Pedoman penyusunan kembali RTRW perkotaan.